Polemik Pidato Presiden di Nganjuk, Jubir Gerindra: Ajak Masyarakat tidak Panik
- 19 Mei 2026 01:07 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Wakil Ketua Komisi II DPR RI, Bahtra Banong, mengatakan polemik pidato Presiden Prabowo Subianto dari potongan video yang tidak utuh
- Jurubicara Partai Gerindra, Bahtra Banong mengatakan, pidato Presiden Prabowo Subianto terkait orang desa tidak pakai dolar, untuk mengenangkan masyarakat dari gejolak ekonomi dunia
RRI.CO.ID, Jakarta - Wakil Ketua Komisi II DPR RI, Bahtra Banong, menilai masyarakat banyak salah mantafsirkan pidato Presiden Prabowo Subianto. Hal ini sebagaimana merespon polemik terkait 'orang desa tidak pakai dolar', dalam pidato Presiden Prabowo di Nganjuk.
Menurutnya pidato yang disampaikan Kepala Negara, beberapa waktu lalu itu menjadi polemik, karena potongan video yang tidak utuh. Sehingga politisi partai Gerindra itu mengatakan, masyarakat tidak mendapatkan pesan dari konteks pidato yang disampaikan Presiden Prabowo.
"Pidato Presiden dipotong hanya pada satu kalimat, lalu dibangun framing seolah Presiden tidak memahami dampak dolar terhadap ekonomi. Itu jelas keliru, dan tidak fair," kata Bahtra dalam keterangan resminya, Jakarta, Senin, 18 Mei 2026.
Bahkan Bahtra yang juga sebagai jurubicara (jubir) partai Gerindra mengungkapkan, potongan video itu dibumbui narasi menggiring opini sesat. Dalam konteks ini dikatakannya, opini itu seolah-olah Presiden Prabowo, menganggap nilai tukar dolar tidak penting bagi ekonomi nasional.
"Kalau didengar utuh, Presiden sedang mengajak rakyat untuk tidak usah panik karena fundamental ekonomi Indonesia kuat. Artinya ekonomi rakyat kita punya daya tahan karena bertumpu pada produksi dan konsumsi dalam negeri," ujar Jubir Gerindra, Bahtra.
Padahal secara keutuhannya, pidato Presiden Prabowo, mengajak masyarakat untuk optimis, dan percaya terhadap kekuatan ekonomi Indonesia. Bahtra mengatakan, Kepala Negara dalam pidatonya menekankan, kuatnya fundamental ekonomi Indonesia di tengah situasi global yang penuh tekanan.
Jubir Gerindra menegaskan, bahwa Presiden Prabowo memahami betul dinamika ekonomi global, termasuk dampak perang dagang dan ketidakpastian geopolitik. Namun sebagai Kepala Negara, Presiden diungkapkannya, memiliki tanggung jawab untuk menjaga psikologi publik dan membangun optimisme nasional.
"Dalam situasi global yang sulit, bangsa ini membutuhkan optimisme dan kepercayaan diri. Presiden Prabowo sedang membangun semangat itu," imbuh Bahtra.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....