Mentrans: Potensi Kekayaan Indonesia Banyak Ditemukan Asing Lebih Dulu
- 17 Mei 2026 15:20 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Menteri Transmigrasi, (Mentrans) Iftitah Sulaiman, mengungkap banyak potensi kekayaan Indonesia yang justru lebih dulu ditemukan oleh pihak asing dibanding masyarakat Indonesia sendiri.
RRI.CO.ID, Jakarta - Menteri Transmigrasi, (Mentrans) Iftitah Sulaiman, mengungkap banyak potensi kekayaan Indonesia yang justru lebih dulu ditemukan pihak asing. Potensi tersebut mulai dari industri gula, pariwisata premium, hingga bisnis kopi dan cokelat di kawasan transmigrasi.
“Banyak potensi yang belum dikenal. Kita sendiri bahkan tidak tahu kalau Indonesia itu kaya,” kata Iftitah Sulaiman saat memberikan sambutan dalam Sosialisasi Program Transmigrasi Patriot 2026 di Jakarta Pusat, Minggu, 17 Mei 2026.
Iftitah mencontohkan potensi industri gula di kawasan transmigrasi Melolo, Sumba Timur, yang ditemukan peneliti dari Australia. Menurutnya, wilayah tandus tersebut ternyata memiliki potensi besar untuk perkebunan tebu dan industri gula.
“Potensi perkebunan tebu dan industri gula di wilayah tandus justru pertama kali ditemukan peneliti Queensland University Australia. Temuan itu membuktikan masih banyak kekayaan Indonesia yang belum dikenali dan dikembangkan masyarakat sendiri,” ucap Iftitah.
Selain itu, ia menyebut potensi wisata premium di kawasan transmigrasi Lamboya, Sumba Barat, juga lebih dulu dikembangkan investor asing. Salah satunya melalui kehadiran resor mewah Nihi Sumba yang dimiliki investor asal Amerika Serikat.
“Potensi wisata alam luar biasa di Lamboya, Sumba Barat, justru pertama kali ditemukan investor asal Amerika Serikat. Banyak potensi kawasan transmigrasi Indonesia belum disadari masyarakat, namun lebih dahulu dilirik pihak asing,” ucap Iftitah.
Iftitah menyebut Pulau Bawah Resort di Anambas ditemukan investor Prancis dan kini menjadi resor mewah favorit wisatawan Singapura. Ia juga menerima laporan investor asing mengembangkan bisnis cokelat dan kopi di kawasan terpencil melalui Tim Ekspedisi Patriot.
“Pulau Bawah Resort ditemukan investor Prancis dan kini menjadi salah satu resor termahal dengan mayoritas wisatawan Singapura. Saya juga menerima laporan investor asing mengembangkan bisnis cokelat dan kopi di berbagai kawasan terpencil Indonesia,” ucapnya.
Menurut Iftitah, kondisi tersebut menjadi alasan Kementerian Transmigrasi membentuk Program Ekspedisi Patriot. Langkah ini dilakukan untuk mendorong generasi muda dan para peneliti turun langsung melihat potensi daerah transmigrasi.
“Kita tidak kekurangan orang-orang pintar. Kita kekurangan orang-orang yang hadir di garis depan pembangunan Indonesia,” kata Iftitah menutup.
Dalam kesempatan yang sama, pemerintah menilai Tim Ekspedisi Patriot membangun optimisme generasi muda mendukung pembangunan nasional di kawasan transmigrasi. Hal tersebut disampaikan langsung Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY).
Menurut AHY, pengalaman lapangan membentuk semangat kepemimpinan sekaligus kepedulian mahasiswa terhadap tantangan pembangunan daerah terpencil Indonesia. AHY menyebut mahasiswa Ekspedisi Patriot diterjunkan langsung untuk memahami persoalan masyarakat sekaligus memberi masukan pembangunan kepada pemerintah.
“Program ini membangun optimisme generasi muda melalui olahraga bersama, dialog interaktif, serta semangat berkontribusi bagi negeri. Mahasiswa diharapkan mampu mengambil peran langsung mendukung pembangunan nasional melalui pengalaman lapangan di berbagai daerah,” kata AHY.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....