Museum Marsinah, Potret Rekam Jejak Perjuangan Buruh

  • 16 Mei 2026 15:25 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Museum Marsinah dibangun dengan uang iuran anggota buruh
  • Berbagai barang peninggalan Marsinah dipamerkan di museum
  • Presiden Prabowo Subianto prihatin dengan kisah hidup Marsinah

RRI.CO.ID, Nganjuk - Langkah Presiden Prabowo Subianto terhenti di sebuah kamar berdinding triplek cokelat kusam. Sebuah ranjang sederhana dan kelambu tua masih tersimpan rapi di sudut ruangan.

Kamar itu milik Marsinah, buruh perempuan yang dikenang karena keberaniannya melawan ketidakadilan. Ruangan sempit itu kini menjadi bagian Museum Marsinah di Nganjuk, Jawa Timur.

Presiden Prabowo menatap lama setiap sudut kamar yang sengaja tidak diubah sejak dahulu. Kesederhanaan ruangan menghadirkan jejak kehidupan buruh yang penuh keterbatasan.

Di ruang lain, deretan barang pribadi Marsinah tersimpan dalam lemari kaca museum. Seragam pabrik, tas, dompet, hingga sepeda ontel dipamerkan berjejer rapi.

Dokumen sekolah dasar hingga sekolah menengah atas juga terpampang di dinding museum. Foto-foto lama merekam perjalanan hidup Marsinah sejak masa kanak-kanak.

Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI) Andi Gani Nena berjalan pelan seraya mendampingi Prabowo menyusuri setiap sudut museum dan rumah singgah. Ia menjelaskan kisah hidup Marsinah kepada Presiden sepanjang peninjauan berlangsung.

“Baju terakhir Bu Marsinah masih tersimpan lengkap bersama tasnya. Beliau anggota KSPSI saat bekerja di Sidoarjo,” ujar Andi.

Marsinah bekerja di pabrik arloji di Sidoarjo semasa hidupnya sebagai buruh pabrik. Setiap hari, ia mengayuh sepeda menuju tempat kerja sejak pagi.

Rekan-rekan mengenal Marsinah sebagai perempuan pemberani yang membela hak-hak buruh pabrik. Ia aktif memperjuangkan kesejahteraan pekerja melalui jalur perundingan dan dialog.

“Beliau memperjuangkan uang lembur dan jaminan kesehatan. Pemikirannya maju untuk ukuran buruh masa itu,” kata Andi.

Di dalam museum, potongan artikel koran lama dipajang pada beberapa bagian dinding utama. Berita-berita itu merekam peristiwa tewasnya Marsinah saat memperjuangkan hak buruh.

Museum dan rumah singgah dibangun hanya dalam waktu empat bulan oleh para buruh. Seluruh biaya pembangunan berasal dari iuran anggota tanpa menggunakan dana APBN.

Rumah singgah itu juga menjadi lokasi makam Marsinah yang terbuka bagi masyarakat umum. Pengunjung dapat datang berziarah tanpa dikenakan biaya masuk.

Presiden Prabowo mengaku prihatin setelah melihat langsung kisah hidup dan perjuangan Marsinah di museum tersebut. Menurut Kepala Negara, tragedi Marsinah menjadi pengingat penting tentang keadilan bagi kaum buruh.

“Saya prihatin melihat kisah perjuangan beliau yang tragis. Keserakahan demi keuntungan besar tidak boleh terulang,” kata Presiden.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....