SMAN 1 Pontianak Tolak Ikut Final Ulang Lomba Cerdas Cermat 4 Pilar MPR

  • 14 Mei 2026 22:55 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • 1. Lomba Cerdas Cermat Empat Pilar MPR partai final tingkat Kalimantan Barat tuai kontroversi
  • 2. Pimpinan MPR memutuskan menganulir hasil lomba dan lomba akan diulang dalam waktu dekat
  • 3. SMAN 1 Pontianak menolak ikut lomba yang akan diulang dan mendukung pemenang SMA 1 Sambas mewakili Kalimantan Barat pada tingkat nasional

RRI.CO.ID, Jakarta-Sekolah Menengah Atas (SMA) 1 Pontianak, Kalimantan Barat menyampaikan sikap tidak berpartisipasi dalam lomba cerdas cermat (LCC) yang diulang. SMA Negeri 1 menghormati hasil lomba yang telah diputuskan oleh dewan juri, dengan pemenang SMAN 1 Sambas.

“SMAN 1 menyatakan tidak akan terlibat dalam pelaksanaan lomba LCC yang diulang sebagaimana informasi dari MPR RI. SMAN 1 Pontianak, menghormati lomba yang telah ditetapkan,” demikian pernyataan sikap SMAN 1 Pontianak seperti diunggah di Instagram, Kamis 14 Mei 2026.

SMAN 1 Pontianak memberikan dukungan kepada pemenang LCC SMAN 1 Sambas sebagai perwakilan Kalimantan Barat dalam ajang LCC 4 tingkat nasional. Pihak SMAN 1 Pontianak menegaskan tidak memiliki maksud apapun untuk menganulir hasil lomba.

Sejak awal, SMAN 1 Pontianak tidak memiliki maksud untuk menganulir hasil lomba. Melainkan semata-mata untuk memperoleh kejelasan melalui klarifikasi, demikian sikap SMAN 1 Pontianak.

LCC Pilar tingkat Kalimantan Barat menuai kontroversi karena juri dinilai tidak adil terhadap peserta lomba. Kontroversi bermula ketika nilai kelompok C yang merupakan SMAN 1 Pontianak dikurangi, sementara kelompok dari SMA 1 Sambas mendapat nilai kendati jawaban sama dengan peserta sebelumnya.

MC memberi pertanyaan saat sesi rebutan jawaban yaitu DPR dalam memilih anggota BPK diwajibkan memperhatikan pertimbangan dari lembaga mana? Josepha Alexandra mewakili SMAN 1 Pontianak menjawab anggota Badan Pemeriksa Keuangan dipilih oleh Dewan Perwakilan Rakyat dengan memperhatikan pertimbangan Dewan Perwakilan Daerah dan diresmikan oleh Presiden.

Lantas dewan juri Dyastasita Widya Budi menganulir jawaban Josepha bahkan nilai dikurangi lima. Kemudian, MC membacakan soal sama, dan grup B dari SMAN 1 Sambas menekan bel dan menjawab BPK oleh DPR dengan memperhatikan pertimbangan DPD dan diresmikan oleh Presiden.

Dewan juri membenarkan jawaban kelompok B dan memberi nilai sempurna 10. Saat MC akan melanjutkan pertanyaan selanjutnya, Josepha mengangkat tangan dan menyampaikan protes karena jawabannya sama seperti kelompok B tetapi nilai dikurangi.

“Dewan juri izin, kami menjawab sama seperti grup B,” kata Josepha. Dewan juri Dyastasita menyampaikan alasan mengurangi poin grup C karena tidak menyebutkan pertimbangan DPD.

Josepha membantah tidak menyebutkan pertimbangan DPD bahkan ia meminta agar ada pandangan lain dari penonton. Dewan juri menolak dan menegaskan keputusan dewan juri tidak dapat dianulir.

Bahkan dewan juri lain, Indri Wahyuni memperingatkan peserta agar artikulasi jelas sehingga dapat didengar oleh dewan juri. Dewan juri, kata Indri berhak untuk mengurangi nilai.

“Diingatkan dari awal artikulasi penting, jadi biasakan menjawab dengan artikulasi jelas. Kalau menurut kalian sudah tapi dewan juri menilai karena tidak mendengar artikulasi, juri berhak memberikan nilai minus, kami memperingatkan artikulasi,” kata Indri.

Guru pendamping SMA N 1 Pontianak sempat menyampaikan protes namun ditolak. Dewan juri menilai yang berhak menyampaikan protes adalah peserta lomba bukan guru.

MC bernama Shindy Lutfiana, meminta grup C untuk menerima keputusan dewan juri. Menurut Shindy, dewan juri yang menilai LCC adalah kompeten dan teliti.

Ucapan Shindy memicu kemarahan publik ketika melontarkan pernyataan ‘cuma perasaan adik-adik saja’. Atas polemik tersebut, pimpinan MPR turun tangan.

Ketua MPR RI Ahmad Muzani mengatakan final LCC Empat Pilar tingkat Kalimantan Barat akan diulang. Pimpinan juga akan memakai juri yang independen.

“Pimpinan mengambil keputusan lomba cerdas cermat Kalimantan Barat, yang final, kita ulang pada waktu yang diputuskan secepatnya. Juri adalah juri independen,” kata Ahmad Muzani.

Pimpinan MPR juga mengapresiasi sikap berani Josepha yang memprotes keputusan dewan juri. Menurut Muzani, tindakan Josepha adalah contoh baik untuk demokrasi.

“Terima kasih, apresiasi kepada peserta lomba mengunakan haknya. Menyampaikan pandangan, kebebasan berbicara, menyampaikan protes dan itu cara melatih menjadi contoh demokrasi lebih baik,” katanya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....