KSOP Tj Priok Gelar Simulasi Krisis Pelabuhan Terintegrasi Pertama di Indonesia
- 12 Mei 2026 13:52 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Utama Tanjung Priok menginisiasi simulasi penanganan krisis pelabuhan terintegrasi pertama di Indonesia
- simulasi tersebut mengusung skenario tabrakan kapal akibat engine failure
RRI.CO.ID, Jakarta - Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Utama Tanjung Priok menginisiasi simulasi penanganan krisis pelabuhan terintegrasi pertama di Indonesia. Yakni melalui Joint Exercise Business Continuity Management System (BCMS) Tumpahan Minyak di kawasan Pelabuhan Tanjung Priok.
Kegiatan tersebut melibatkan lebih dari 30 pemangku kepentingan strategis pelabuhan. Mulai dari regulator, operator terminal petikemas internasional, terminal energi, terminal multipurpose, fasilitas logistik, hingga berbagai instansi pemerintah.
Kepala KSOP Utama Tanjung Priok Capt. Heru Susanto mengatakan penguatan sistem keberlangsungan operasional pelabuhan menjadi kebutuhan strategi. Hal ini dilakukan di tengah meningkatnya kompleksitas risiko geopolitik, gangguan rantai pasok global, serta ancaman kedaruratan pelabuhan modern.
“Sebagai regulator, peran kami bukan hanya menetapkan aturan. Tetapi memastikan seluruh ekosistem pelabuhan bergerak dalam satu irama ketika krisis terjadi,” kata Heru dalam keterangannya, Selasa, 12 Mei 2026.
Ia menjelaskan, simulasi tersebut mengusung skenario tabrakan kapal akibat engine failure. Yang mana hal tersebut dapat memicu tumpahan minyak di kolam pelabuhan.
Latihan dilakukan untuk menguji kesiapan seluruh pemangku kepentingan dalam menjaga keberlangsungan operasional pelabuhan nasional saat kondisi darurat. Menurutnya, pengalaman pengelolaan arus logistik periode Nataru hingga angkutan Lebaran, menunjukkan pentingnya sinergi menjaga stabilitas rantai pasok nasional.
Pelabuhan Tanjung Priok sendiri merupakan pelabuhan terbesar di Indonesia dengan throughput sekitar 7,6 hingga 8,3 juta TEUs per tahun. Dan menangani lebih dari separuh arus petikemas internasional Indonesia.
Ketua Tim Penyusun BCMS Pelabuhan Tanjung Priok Tedy Herdian mengatakan dokumen BCMS menetapkan delapan skenario risiko kritikal. Yakni pandemi kesehatan, terorisme, kerusuhan massa, kebakaran besar, tumpahan minyak, kemacetan logistik parah, hingga bencana alam.
“Dokumen BCMS ini bersifat dinamis dan akan terus dikembangkan. Dan akan mengikuti perkembangan risiko dan kompleksitas operasional pelabuhan,” ujar Tedy.
Direktur Jenderal Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan Muhammad Masyhud turut mengapresiasi pelaksanaan simulasi tersebut. Ia menilai kesiapan penanganan kedaruratan menjadi faktor penting dalam menjaga kepercayaan dunia internasional terhadap pelabuhan.
“Kementerian Perhubungan mendukung upaya KSOP Utama Tanjung Priok. Salah satunya dalam membangun sistem penanganan krisis yang terkendali, terukur, dan terintegrasi,” ujar Masyhud.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....