Dukung CKG Sekolah, Pengamat Dorong Penguatan Layanan Kesehatan di Daerah 3T
- 12 Mei 2026 14:40 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Pengamat kebijakan publik, Trubus Rahadiansyah, menilai pemerataan program Cek Kesehatan Gratis (CKG) Sekolah masih menghadapi tantangan.
- Khususnya di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) yang kesiapan fasilitas dan tenaga kesehatannya perlu terus diperkuat.
- Selain penguatan fasilitas, Trubus menilai pemerintah perlu memperluas pelibatan masyarakat dalam pelaksanaan program, serta memperkuat koordinasi dengan pemerintah daerah agar program berjalan efektif.
RRI.CO.ID, Jakarta – Pengamat kebijakan publik, Trubus Rahadiansyah, menilai pemerataan program Cek Kesehatan Gratis (CKG) Sekolah masih menghadapi tantangan. CKG dinilai memiliki tantangan, khususnya di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).
Ia mengatakan, akses layanan kesehatan di sejumlah daerah masih terbatas. Kondisi tersebut berpotensi menghambat pemeriksaan kesehatan siswa secara merata.
“Kalau kesiapan sudah cukup baik, meskipun untuk daerah 3T masih perlu ditambah. Atau daerah-daerah kabupaten kota yang jauh, yang jauh dari perkotaan, jadi perlu ditambah,” ujar Trubus saat dihubungi Pro3 RRI pada Senin, 11 Mei 2026.
Selain penguatan fasilitas, Trubus menilai pemerintah perlu memperluas pelibatan masyarakat dalam pelaksanaan program. Menurutnya, koordinasi dengan pemerintah daerah hingga tingkat RT dan RW menjadi penting agar program berjalan efektif.
Ia juga mendorong keterlibatan orang tua dalam pemeriksaan kesehatan melalui program CKG keluarga. Langkah tersebut dinilai penting untuk mendeteksi potensi penyakit turunan maupun penyakit menular sejak dini.
Menurut Trubus, sinergi data kesehatan anak dan orang tua dapat membantu penanganan kesehatan lebih cepat. Pemerintah juga dinilai perlu menyiapkan tindak lanjut pengobatan bagi siswa yang terdeteksi mengalami gangguan kesehatan.
“Programnya menurut saya ini program yang bagus. Jadi program ini harus diperkuat, harus dibuat berkelajutan,” ujarnya.
Sebelumnya, Kepala Badan Komunikasi Pemerintah RI, Muhammad Qodari, mengatakan kondisi kesehatan siswa berpengaruh terhadap proses belajar di sekolah. Menurutnya, peserta didik yang mengalami gangguan kesehatan akan sulit mengikuti pembelajaran secara optimal.
Karena itu, pemerintah menjalankan Program CKG Sekolah untuk memastikan pemeriksaan kesehatan dilakukan sejak dini. Langkah tersebut diharapkan membantu penanganan masalah kesehatan siswa lebih cepat.
“Melalui program ini, pemerintah tidak hanya menjaga kesehatan siswa. Ini juga membangun fondasi SDM yang lebih sehat, produktif, dan siap menghadapi masa depan,” ujar Qodari dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu, 6 Mei 2026.
Hasil pelaksanaan Program CKG Sekolah sepanjang 2025 menunjukkan masih tingginya persoalan kesehatan siswa. Tiga masalah kesehatan terbesar meliputi gangguan kebugaran sebesar 60,69 persen, karies gigi 47,24 persen, dan anemia 27,49 persen.
Sementara itu, sejak Januari hingga awal Mei 2026, sebanyak 4.883.890 siswa telah mengikuti skrining kesehatan. Pemeriksaan tersebut dilakukan di 45.596 sekolah di berbagai daerah.
Adapun data terbaru tahun ini menunjukkan persoalan kesehatan yang paling banyak ditemukan berupa gigi berlubang sebesar 41,5 persen. Selain itu, peningkatan tekanan darah mencapai 22,1 persen dan penumpukan kotoran telinga sebesar 8,6 persen.
Menurut Qodari, Program CKG menjadi bentuk layanan jemput bola pemerintah di bidang kesehatan. Pemerintah ingin memastikan seluruh anak Indonesia memperoleh akses layanan kesehatan dasar secara merata.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....