Pengamat Nilai CKG Sekolah Penting untuk Dukung Kualitas Pendidikan Nasional
- 12 Mei 2026 14:20 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Pengamat kebijakan publik, Trubus Rahadiansyah, menilai program Cek Kesehatan Gratis (CKG) Sekolah menjadi langkah penting mendukung kualitas pendidikan nasional.
- Trubus menjelaskan, program tersebut juga membantu pemerintah memetakan persoalan kesehatan siswa secara lebih sistematis.
- Data hasil pemeriksaan nantinya dapat digunakan untuk menentukan intervensi kesehatan dan pendidikan yang tepat sasaran.
RRI.CO.ID, Jakarta – Pengamat kebijakan publik, Trubus Rahadiansyah, menilai program Cek Kesehatan Gratis (CKG) Sekolah langkah penting mendukung kualitas pendidikan nasional. Menurutnya, kondisi kesehatan siswa sangat memengaruhi proses belajar di sekolah.
Ia mengatakan, gangguan kesehatan dapat menghambat kemampuan siswa dalam menerima pelajaran. Karena itu, program CKG Sekolah dinilai penting untuk mendeteksi masalah kesehatan sejak dini.
“Program ini mendesak karena ditengarai banyak anak-anak sekolah terkena penyakit yang sifatnya degeneratif. Selain itu juga ada penyakit-penyakit jenis menular, jadi penyakit-penyakit ini kan bisa dideteksi melalui CKG ini,” ujar Trubus saat dihubungi Pro3 RRI pada Senin, 11 Mei 2026.
Trubus menjelaskan, program tersebut juga membantu pemerintah memetakan persoalan kesehatan siswa secara lebih sistematis. Data hasil pemeriksaan nantinya dapat digunakan untuk menentukan intervensi kesehatan dan pendidikan yang tepat sasaran.
Ia menilai program CKG Sekolah juga memiliki fungsi edukasi bagi masyarakat. Menurutnya, masih banyak orang tua yang belum memahami pentingnya pemeriksaan kesehatan rutin bagi anak.
“Yang kedua, CKG di sini juga mengedukasi masyarakat untuk memahami pentingnya kesehatan. Ini berlaku juga untuk orang tua, karena enggak semua orang tua juga paham,” katanya.
Selain itu, Trubus menyoroti perlunya penguatan fasilitas kesehatan di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar atau 3T. Ia menilai kesiapan tenaga kesehatan di wilayah terpencil masih perlu ditingkatkan agar program berjalan merata.
Menurutnya, pemerintah juga perlu memperkuat kolaborasi dengan pemerintah daerah hingga tingkat RT dan RW. Pelibatan masyarakat dinilai penting agar program CKG dapat berjalan lebih efektif dan berkelanjutan.
“Programnya menurut saya ini program yang bagus. Jadi program ini harus diperkuat, harus dibuat berkelanjutan,” ujarnya.
Sebelumnya, Kepala Badan Komunikasi Pemerintah RI, Muhammad Qodari, mengatakan kondisi kesehatan siswa berpengaruh terhadap proses belajar di sekolah. Menurutnya, peserta didik yang mengalami gangguan kesehatan akan sulit mengikuti pembelajaran secara optimal.
Karena itu, pemerintah menjalankan Program CKG Sekolah untuk memastikan pemeriksaan kesehatan dilakukan sejak dini. Langkah tersebut diharapkan membantu penanganan masalah kesehatan siswa lebih cepat.
“Melalui program ini, pemerintah tidak hanya menjaga kesehatan siswa. Ini juga membangun fondasi SDM yang lebih sehat, produktif, dan siap menghadapi masa depan,” ujar Qodari dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu, 6 Mei 2026.
Hasil pelaksanaan Program CKG Sekolah sepanjang 2025 menunjukkan masih tingginya persoalan kesehatan siswa. Tiga masalah kesehatan terbesar meliputi gangguan kebugaran sebesar 60,69 persen, karies gigi 47,24 persen, dan anemia 27,49 persen.
Sementara itu, sejak Januari hingga awal Mei 2026, sebanyak 4.883.890 siswa telah mengikuti skrining kesehatan. Pemeriksaan tersebut dilakukan di 45.596 sekolah di berbagai daerah.
Adapun data terbaru tahun ini menunjukkan persoalan kesehatan yang paling banyak ditemukan berupa gigi berlubang sebesar 41,5 persen. Selain itu, peningkatan tekanan darah mencapai 22,1 persen dan penumpukan kotoran telinga sebesar 8,6 persen.
Menurut Qodari, Program CKG menjadi bentuk layanan jemput bola pemerintah di bidang kesehatan. Pemerintah ingin memastikan seluruh anak Indonesia memperoleh akses layanan kesehatan dasar secara merata.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....