DWP Kemensos Kampanye Anti Bullying
- 11 Mei 2026 21:45 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- DWP Kemensos gelar kampanye anti bullying di SRMA 13 Bekasi
- Kegiatan fokus penguatan karakter dan empati remaja
- Kampanye digelar di tengah meningkatnya kasus kekerasan anak
- Data KPAI mencatat 4.664 kasus kekerasan anak awal 2025
- Perundungan disebut banyak terjadi di lingkungan sekolah
RRI.CO.ID, Bekasi - Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kementerian Sosial (Kemensos) menggelar kampanye anti bullying di SRMA 13 Bekasi, Senin 11 Mei 2026. Kegiatan menyasar penguatan karakter dan empati remaja di lingkungan sekolah.
Kampanye dilakukan di tengah meningkatnya kasus kekerasan terhadap anak di Indonesia. Data Komisi Perlindungan Anak Indonesia mencatat 4.664 kasus kekerasan anak terjadi pada awal 2025.
Perundungan menjadi salah satu kasus yang paling banyak terjadi di lingkungan sekolah. Pemerintah menilai sekolah harus menjadi ruang aman bagi anak.
Wakil Ketua II DWP Kemensos, Evi Agus Zainal mengatakan kegiatan digelar merespons maraknya kasus bullying. Siswa diminta memahami dampak dan berani menghentikan perundungan.
“Kita ingin anak-anak tidak hanya memahami bahayanya. Mereka juga harus berani menghentikan bullying,” kata Evi.
Kegiatan diikuti 180 siswa SRMA 13 Bekasi. Acara diisi penampilan seni, pidato bahasa asing, dan sosialisasi interaktif.
Kepala SRMA 13 Bekasi Lastri Fajarwati mengatakan sekolah terus membangun lingkungan positif bagi siswa. Sekolah juga menyediakan 14 kegiatan ekstrakurikuler.
“Anak-anak harus berkembang melalui kegiatan yang positif. Lingkungan sekolah juga harus sehat,” ucap Lastri.
Penasihat Dharma Wanita Persatuan Kemensos Fatma Saifullah Yusuf mengajak siswa menjadi pelopor perubahan. Sekolah diminta menjadi lingkungan aman dan saling menghargai.
“Kita harus menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan nyaman. Semua siswa harus saling mengasihi,” kata Fatma.
Ia meminta siswa berani menolak tindakan perundungan. Siswa juga diminta tidak menjadi penonton saat bullying terjadi.
“Beranilah berkata tidak pada bullying. Jangan diam ketika ada teman menjadi korban,” ucapnya.
Dalam kegiatan itu, siswa membacakan deklarasi anti perundungan. Deklarasi berisi komitmen menolak bullying dan menghargai sesama.
Kegiatan juga menghadirkan sesi role play bersama motivator Ginanjar Maulana. Siswa diajak memahami posisi korban, pelaku, dan saksi bullying.
Metode role play digunakan untuk membangun empati siswa. Pemerintah berharap siswa lebih berani mencegah perundungan di sekolah.
Salah satu siswi SRMA 13 Bekasi Alma mengaku mendapat pengalaman baru dari kegiatan tersebut. Menurutnya, simulasi membuat siswa memahami dampak bullying.
“Jadi paham bagaimana tidak enaknya dibully. Lingkungan juga ternyata bisa menghentikan itu,” kata Alma.
Kegiatan juga diisi penyaluran bantuan Asistensi Rehabilitasi Sosial. Sebanyak lima penerima manfaat menerima bantuan kursi roda.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....