Memahami Jejak Erupsi Panjang Gunung Dukono

  • 11 Mei 2026 06:24 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Tragedi erupsi Gunung Dukono kembali menyoroti panjangnya riwayat aktivitas vulkanik gunung api aktif di Maluku Utara.
  • Gunung Dukono tercatat telah mengalami erupsi besar berulang sejak ratusan tahun silam hingga tahun 2026.
  • Aktivitas vulkanik Gunung Dukono menunjukkan potensi letusan besar yang masih perlu diwaspadai masyarakat dan pendaki.

RRI.CO.ID, Jakarta - Tragedi erupsi Gunung Dukono pekan lalu kembali menyoroti panjangnya riwayat aktivitas vulkanik gunung tersebut. Dalam letusan Jumat, 8 Mei 2026, pagi, tiga pendaki dilaporkan meninggal setelah terjebak material vulkanik.

Para petugas kemudian melakukan evakuasi terhadap belasan pendaki lain yang sempat terisolasi kawasan pendakian. Letusan tersebut menyemburkan kolom abu vulkanik setinggi sekitar sepuluh kilometer dari puncak kawah aktif.

Gunung Dukono berada di Pulau Halmahera Maluku Utara dengan ketinggian mencapai sekitar 1.335 meter. Gunung api tersebut dikenal sebagai salah satu gunung paling aktif di Indonesia sejak ratusan tahun silam.

Mengutip data PVMBG, gunung ini telah ditetapkan statusnya berada pada level dua atau waspada sejak Juni 2008. Masyarakat sekitar kawasan gunung juga diminta menghindari seluruh aktivitas dalam radius dua kilometer kawah aktif.

Kawah Malupang-Warirang diketahui menjadi pusat aktivitas vulkanik paling aktif di kompleks Gunung Dukono hingga sekarang. Selain kawah tersebut terdapat beberapa kawah lain seperti Tanah Lapang Dilekene dan Telori.

Aktivitas kegempaan Gunung Dukono didominasi gempa vulkanik dalam dangkal tektonik lokal serta letusan hembusan. Struktur geologi kawasan gunung juga dipengaruhi keberadaan sesar dan sejumlah kawah aktif sekitar puncak.

Catatan PVMBG menyebut Gunung Dukono pernah mengalami erupsi besar yang merusak Kota Tolo tahun 1550. Aliran lava letusan tersebut bahkan menghubungkan Gunung Mamuya dengan Pulau Halmahera yang sebelumnya terpisah laut.

Letusan besar kembali tercatat terjadi pada periode 1861 hingga 1869 serta erupsi hebat tahun 1901. Pada Agustus 1933 pusat letusan berada di bawah Kawah Malupang-Warirang dengan aliran lava merusak wilayah.

Gunung Dukono kembali mengalami peningkatan aktivitas vulkanik pada periode 1941 hingga 1995 secara berulang. Erupsi abu kembali terjadi pada Maret 2003 dengan material vulkanik mencapai wilayah Tobelo sekitar gunung.

Sebelum tragedi terbaru Gunung Dukono juga tercatat mengalami erupsi pada awal April 2026 lalu. Rangkaian aktivitas tersebut menunjukkan Gunung Dukono masih menyimpan potensi erupsi besar yang perlu diwaspadai.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....