CNG Dinilai Tekan Impor LPG dan Bebani Subsidi

  • 08 Mei 2026 12:00 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Penggunaan Compressed Natural Gas (CNG) dinilai mampu mengurangi tekanan impor energi nasional secara bertahap.
  • Kebijakan itu juga diperkirakan memperbaiki efisiensi belanja subsidi pemerintah dalam beberapa tahun mendatang.

RRI.CO.ID, Jakarta - Penggunaan Compressed Natural Gas (CNG) dinilai mampu mengurangi tekanan impor energi nasional secara bertahap. Kebijakan itu juga diperkirakan memperbaiki efisiensi belanja subsidi pemerintah dalam beberapa tahun mendatang.

Guru Besar FEB UI, Telisa Aulia Felianty mengatakan, CNG berpotensi membawa dampak ekonomi besar. Potensi itu muncul jika CNG menggantikan LPG subsidi untuk rumah tangga dan UMKM.

Menurut Telisa, penggunaan CNG dapat menekan impor LPG yang selama ini membebani devisa negara. Pasalnya, bahan baku CNG tersedia melimpah dari sumber gas domestik.

“Penggunaan CNG bisa menghemat APBN hingga Rp130 triliun. Impor LPG juga otomatis berkurang karena bahan bakunya tersedia di dalam negeri,” katanya dalam dialog Pro3 RRI, Jumat, 8 Mei 2026.

Ketergantungan impor LPG dinilai semakin mengkhawatirkan sepanjang awal tahun 2026. Porsi impor bahkan mencapai hampir 84 persen dari total kebutuhan nasional.

Volume impor LPG nasional diperkirakan mencapai 7 hingga 8,6 juta ton setiap tahun. Kondisi itu membuat anggaran subsidi energi semakin rentan terhadap gejolak harga global.

Pemerintah saat ini mengalokasikan subsidi LPG sekitar Rp80 triliun hingga Rp87 triliun per tahun. Pengeluaran besar itu dinilai membatasi ruang fiskal untuk program produktif lainnya.

Namun, implementasi CNG diperkirakan tidak berlangsung cepat dalam waktu dekat. Pemerintah harus menyiapkan investasi besar untuk infrastruktur distribusi dan keamanan penggunaan.

Tabung CNG membutuhkan tekanan lebih tinggi dibandingkan tabung LPG subsidi. Kondisi itu membuat spesifikasi tabung dan perlengkapan rumah tangga harus diubah.

Selain tabung, masyarakat juga memerlukan regulator dan kompor yang kompatibel dengan CNG. Penyesuaian tersebut diperkirakan membutuhkan dukungan pembiayaan dari pemerintah.

“Implementasi penggunaan CNG tidak mudah dan memerlukan anggaran besar. Pemerintah perlu membantu masyarakat menyesuaikan sarana penggunaan energi,” ujar Telisa.

Kementerian ESDM mulai menyiapkan pengembangan tabung CNG ukuran tiga kilogram untuk masyarakat. Uji coba teknis dilakukan karena tekanan penyimpanan gas mencapai 200 hingga 250 bar.

Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, menyebut biaya produksi CNG lebih murah dibandingkan LPG. Selisih biaya diperkirakan mencapai 30 hingga 40 persen.

Pemerintah tetap mempertahankan skema subsidi untuk CNG ukuran tiga kilogram. Harga jualnya ditargetkan setara dengan LPG subsidi yang beredar saat ini.

Penggunaan CNG sebelumnya telah diterapkan di sejumlah hotel dan restoran. Program dapur Makan Bergizi Gratis juga mulai memanfaatkan energi gas tersebut.

Peralihan menuju CNG dinilai bukan sekadar proyek energi alternatif nasional. Kebijakan itu juga menjadi upaya mengurangi ketergantungan impor dan tekanan subsidi jangka panjang.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....