Wamenkomdigi Tegaskan Pilihan Indonesia dalam Pengembangan Industri Teknologi

  • 07 Mei 2026 14:50 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

RRI.CO.ID, Jakarta - Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria menyatakan, Indonesia sedang pengembangan industri kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI). Namun dalam pengembangan itu, Indonesia melakukan pendekatan kolaboratif, di tengah meningkatnya rivalitas geopolitik global.

Di saat negara-negara besar memperkuat kontrol terhadap teknologi, Indonesia dikatakannya, memilih posisi sebagai kekuatan menengah. Hal ini sebagai langkah penyeimbang antara peran negara dan kolaborasi lintas sektor, dalam membangun ekosistem AI yang terbuka.

"Ini saatnya Indonesia, menunjukkan kepemimpinan teknologi. Atas nama pemerintah, kami selalu membuka kolaborasi," kata Nezar dalam keterangan resminya, Jakarta, Kamis, 7 Mei 2026.

Wamenkomdigi menuturkan, bahwa Indonesia membuka peluang kolaborasinya, tidak hanya antar negara, namun juga menyasar pada sektor-sektor terkait lainnya. Dengan demikian ia menilai bahwa pengembangan industri AI akan berjalan secara inklusif, dan berdaya saing.

"Tidak hanya mengandalkan peran pemerintah, tetapi juga mendorong seluruh sektor industri dan pemangku kepentingan. Bekerja sama dalam satu ekosistem, membangun industri AI agar memberikan akses yang luas," ujarnya.

Lebih lanjut ditegaskan Nezar, pendekatan ini menjadi pilihan yang strategis bagi Indonesia. Terlebih hal ini menyikapi kecenderungan global, yang mendorong dominasi negara atas teknologi.

Ia menilai bahwa dengan kecenderungan global itu, akan berpotensi menjadikan industri ekosikstem AI yang tertutup. Hal ini akan memberikan dampak pada tidak seimbangnya pengembangan dan pemanfaatan teknologi antar negara-negara dunia.

"Jika melihat tren global saat ini, termasuk di Amerika Serikat, terdapat pandangan bahwa negara perlu mengambil kendali lebih besar terhadap teknologi dan perusahaan teknologi. Namun, itu bukan jalan yang akan dipilih Indonesia, karena berpotensi mengarah pada apa yang disebut sebagai fasisme teknologi," kata Nezar.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....