Bapanas Dorong Beras Fortifikasi FSVA
- 06 Mei 2026 12:57 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Bapanas dorong bantuan pangan berbasis beras fortifikasi
- Data FSVA dipakai petakan wilayah rawan pangan prioritas
- Beras fortifikasi diarahkan untuk perbaikan gizi kelompok rentan
- Program masuk RPJMN 2025-2029 dan mulai dirintis sejak 2025
- Sasaran program keluarga berisiko stunting dan desil terbawah
RRI.CO.ID, Jakarta - Badan Pangan Nasional (Bapanas) mendorong bantuan pangan berbasis beras fortifikasi menggunakan data Food Security and Vulnerability Atlas. Pemetaan FSVA dipakai menentukan wilayah rentan rawan pangan hingga level terkecil.
Direktur Pengendalian Kerawanan Pangan Bapanas, Sri Nuryanti menyebut bantuan pangan mendukung ketahanan pangan masyarakat. Program tersebut juga diarahkan memperbaiki gizi kelompok rentan di berbagai daerah.
“Program bantuan pangan memiliki peran strategis sebagai instrumen perlindungan sosial dan intervensi gizi efektif. Inovasi peningkatan kualitas bantuan pangan harus terus dikembangkan,” ucapnya dalam Workshop Capacity Building Pemanfaatan Beras Fortifikasi dalam Program Bantuan Pangan di Jakarta, Selasa 5 Mei 2026.
Ia mengatakan pemanfaatan beras fortifikasi menjadi salah satu upaya peningkatan kualitas bantuan pangan nasional. Program itu juga mendukung penguatan intervensi gizi masyarakat rentan.
“Kegiatan capacity building penting untuk meningkatkan kapasitas teknis dan sinergi antar pemangku kepentingan. Implementasi program membutuhkan kolaborasi lintas sektor yang kuat,” kata Sri.
Menurutnya, dukungan kebijakan dan anggaran menentukan keberhasilan program secara menyeluruh. Perencanaan dan pelaksanaan lapangan juga harus berjalan terpadu.
Pemanfaatan beras fortifikasi telah masuk Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2025-2029. Program rintisan mulai berjalan sejak 2025 di wilayah prioritas FSVA.
Sasaran program mencakup keluarga berisiko stunting dengan tingkat kesejahteraan terendah. Lokasi intervensi berada di prioritas satu dan dua FSVA kabupaten dan kota.
Ketua Nutrisi dan Fortifikasi Food Safety and Standards Authority of India, Sirimavo Nair memaparkan pengalaman India menjalankan program serupa. India mengintegrasikan beras fortifikasi dalam bantuan pangan bersubsidi dan makan siang sekolah.
“Program ini dijalankan bertahap sejak 2019 dan mencapai cakupan nasional pada 2025. Implementasi didukung lebih dari 21 ribu unit penggilingan beras,” ucap Nair.
Ia menyebut India memiliki sistem pengawasan mutu digital bernama FoRTrace. Sistem itu dipakai memverifikasi kualitas beras fortifikasi secara real time.
“Fortifikasi beras mampu menurunkan prevalensi anemia hingga 20 persen. Risiko defisiensi zat besi juga turun sebesar 35 persen,” katanya.
Sementara itu, Vice President Global Health Strategies Indonesia, Suchi Mahajan menyoroti pentingnya advokasi publik. Sosialisasi dilakukan melalui video, televisi, dan materi komunikasi berbagai bahasa.
“Program membutuhkan dukungan besar sebagai bagian sistem perlindungan sosial nasional. Advokasi publik penting agar masyarakat memahami manfaat beras fortifikasi,” ucap Suchi.
FSVA merupakan peta tematik kondisi ketahanan dan kerentanan pangan suatu wilayah. Peta tersebut menjadi dasar intervensi pangan agar lebih tepat sasaran.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....