Produksi Beras Nasional Naik, Badan Pusat Statistik Catat NTP Petani Meningkat
- 06 Mei 2026 12:30 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Produksi beras Jan–Juni 2026 diproyeksi 19,31 juta ton, naik 0,26 persen
- NTP tanaman pangan April naik ke 112,29, tetap di atas 100 sejak 2022
- Kenaikan NTP didorong harga gabah yang meningkat
- Penyerapan beras domestik capai 2,53 juta ton atau 63,3 persen target
- Realisasi penyerapan melampaui periode sama tahun 2025
RRI.CO.ID, Jakarta - Produksi beras nasional hingga Juni 2026 diproyeksikan meningkat dibanding periode sama tahun lalu. Data Badan Pusat Statistik juga menunjukkan Nilai Tukar Petani (NTP) subsektor tanaman pangan ikut naik pada April 2026.
Deputi BPS Ateng Hartono menyampaikan, subsektor tanaman pangan dan perkebunan rakyat mengalami kenaikan NTP. Keduanya masing-masing meningkat 0,43 persen dan 1,62 persen.
“Subsektor tanaman pangan dan perkebunan rakyat mengalami kenaikan NTP pada April 2026,” ucapnya di Jakarta, Minggu 4 Mei 2026. BPS mencatat, NTP tanaman pangan naik dari 111,81 pada Maret menjadi 112,29 pada April.
Menurutnya, indeks ini konsisten berada di atas 100 sejak 2022. Ateng mengatakan, kenaikan tersebut terutama didorong harga yang diterima petani padi.
Indeks harga petani padi meningkat dari 144,58 menjadi 145,37. BPS juga memproyeksikan produksi beras Januari–Juni 2026 mencapai 19,31 juta ton.
Angka ini naik 0,05 juta ton atau 0,26 persen dibanding periode sama 2025. “Produksi beras Januari sampai Juni 2026 diperkirakan mencapai 19,31 juta ton,” kata Ateng.
Ateng menyebutkan, pemerintah mendorong penyerapan beras dari produksi dalam negeri untuk memperkuat stok nasional. Menurutnya, pengadaan beras dilakukan tanpa impor sejak 2025.
Data Badan Pangan Nasional menunjukkan penyerapan beras hingga awal Mei 2026 mencapai 2,53 juta ton. Angka ini setara 63,3 persen dari target 4 juta ton.
Capaian tersebut melampaui realisasi periode Januari–Mei 2025 sekitar 2,47 juta ton. Penyerapan sendiri dilakukan oleh Perum Bulog dari produksi dalam negeri.
Sementara itu, Menteri Pertanian sekaligus Kepala Bapanas Andi Amran Sulaiman menyebut peningkatan produksi berdampak pada kesejahteraan petani. Menurutnya, stok beras pemerintah juga meningkat signifikan.
“Produksi meningkat dan stok Bulog tertinggi sepanjang sejarah,” ucapnya. Ia menegaskan impor beras umum tidak dilakukan sejak 2025.
“Impor hanya untuk beras khusus yang tidak bisa ditanam di Indonesia,” katanya. Sementara itu, Amran mengungkapkan, Stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) diperkuat dari penyerapan domestik sepanjang 2025.
Total pasokan CBPmencapai 3,4 juta ton. Beras tersebut disalurkan melalui program stabilisasi harga pangan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....