Indonesia Jajaki Peluang Investasi Pupuk di Laos
- 05 Mei 2026 15:51 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Indonesia Jajaki Peluang Investasi Pupuk di Laos
- Wakil Kepala Badan Pengatur BUMN, Aminuddin Ma'ruf, mengungkapkan adanya peluang investasi strategis di sektor pupuk antara Indonesia dan Laos
RRI.CO.ID, Jakarta - Wakil Kepala Badan Pengatur BUMN, Aminuddin Ma'ruf, mengungkapkan adanya peluang investasi di sektor pupuk antara Indonesia dan Laos. Hal itu disampaikannya usai mendampingi Wakil Presiden (Wapres) Gibran Rakabuming bertemu dengan Wakil Perdana Menteri Laos, Thongsavan Phomvihane.
Aminuddin menjelaskan, salah satu fokus utama pembahasan adalah kemungkinan investasi PT Pupuk Indonesia di Laos. Saat ini, Indonesia mengimpor bahan baku pupuk, potas, dari Laos dengan nilai cukup besar.
"Pupuk Indonesia itu mengimpor bahan baku pupuk yaitu potash kurang lebih nilainya USD60 juta per tahun dari Laos. Tadi Bapak Wakil Presiden menyampaikan ke Yang Mulia Wakil Perdana Menteri untuk menjajaki kemungkinan Pupuk Indonesia berinvestasi di Laos untuk memproduksi pupuk dan hilirisasinya," katanya di Istana Wapres, Jakarta, Selasa, 5 Mei 2026.
Menurutnya, langkah ini sejalan dengan visi Presiden Prabowo Subianto untuk memperkuat kedaulatan dan ketahanan pangan. Laos sendiri dinilai memiliki posisi strategis dalam mendukung rantai pasok bahan baku pupuk di kawasan.
Selain sektor pupuk, pemerintah Indonesia juga membuka peluang kerja sama investasi di bidang lain melalui BUMN. Termasuk sektor infrastruktur (BUMN Karya), pertambangan, dan pertahanan.
Untuk nilai investasinya berapa, jangka waktunya berapa, ini kan masih pertemuan antar pimpinan negara ya. Saya sudah berkomunikasi dengan duta besar Laos untuk Indonesia, kami akan menjajaki follow up meeting selanjutnya," ujarnya.
Hal yang sama disampaikan Wakil Menteri Luar Negeri Anis Matta. Selain pupuk, pemerintah Indonesia mendorong penguatan kerja sama bilateral dengan Laos di berbagai sektor strategis.
Pertemuan bilateral ini membahas tiga fokus utama, yakni kerja sama ekonomi, keamanan, dan politik. "Yang terkait dengan tema politik ini adalah karena tahun depan InsyaAllah hubungan kita dengan Laos ini akan memasuki tahun ke-70," katanya.
"Karena itu kita berpikir harus ada sesuatu yang lebih strategis yang bisa kita rayakan pada usia hubungan dipolitik kita yang sudah memasuki tahun ke-70. Ini yang kita jabarkan dalam rangkaian kerja sama ekonomi," ujarnya.
Di sektor ekonomi, lanjutnya, nilai perdagangan kedua negara saat ini tercatat sekitar USD83,8 juta. Ia menyebut, nilai perdagangan tersebut relatif sangat kecil dibanding dengan negara-negara ASEAN yang lainnya.
Di bidang keamanan, Indonesia dan Laos sepakat meningkatkan kolaborasi dalam menghadapi kejahatan lintas negara. Khususnya terkait kasus penipuan daring (scam) yang melibatkan warga negara Indonesia di kawasan tersebut.
"Karena selain Kamboja ada Laos yang juga banyak WNI yang terlibat dalam kasus ini. Sehingga pengembangan kerja sama ini dalam kerja sama intelijen dan keamanan ini sangat penting untuk kita tingkatkan," ucapnya.
Lebih lanjut, Anis menekankan pentingnya hubungan Indonesia dengan Laos dalam konteks kawasan ASEAN. Ia menyebut, ASEAN sebagai mitra dagang terbesar kedua Indonesia setelah Tiongkok, dengan nilai sekitar USD106 miliar per tahun.
"Itu sebabnya kenapa Laos kita bilang ini masih kecil dan perlu peningkatan. Karena potensi yang ada ini masih jauh dari pada apa yang sudah terealisasi," katanya.
"Di tengah goncangan geopolitik yang ada sekarang ini saya kira faktor geografi ini memainkan peranan yang sangat penting. Karena itu penguatan kerja sama ASEAN dan di sini Laos menemukan konteksnya yang sangat penting sekali," ucapnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....