Kementrans Tegaskan Program TEP 2026 Hadirkan Pembangunan hingga ke Pelosok
- 04 Mei 2026 23:40 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Kementerian Transmigrasi
- Pembangunan Pelosok
- Tim Ekspedisi Patriot
- TEP 2026
- Kawasan Transmigrasi
- Arahan Presiden
- Menteri Iftitah
- Daerah 3 T
RRI.CO.ID, Jakarta - Menteri Transmigrasi, M. Iftitah Sulaiman Suryanagara menegaskan arah pembangunan nasional harus menjangkau seluruh pelosok negeri sesuai arahan Presiden. Indonesia tidak dibangun dari kejauhan, melainkan tumbuh dari tangan-tangan yang hadir tinggal bersama rakyat di wilayah paling membutuhkan.
Hal ini disampaikannya dalam Konferensi Pers terkait pembukaan program Tim Ekspedisi Patriot (TEP) tahun 2026 melalui www.tep.transmigrasi.go.id. Menteri Iftitah menyebut, program TEP memastikan pembangunan lahir dari keberanian, untuk turun ke lapangan dengan arah transformasi transmigrasi.
Potensi besar dimiliki Indonesia tanah yang memiliki subur, laut yang kaya, dan masa depan yang terbuka lebar. Namun, masih terdapat kesenjangan yang nyata terjadi di berbagai wilayah di tanah air.
Kesenjangan tersebut khususnya di daerah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3 T), seperti Papua, Maluku, dan Nusa Tenggara Timur. Karena itu, negara membutuhkan lebih dari sekadar ide, tetapi juga negara membutuhkan kehadiran nyata di lapangan.
“Indonesia terlalu besar untuk hanya didiskusikan, di banyak tempat, tanahnya subur, lautnya kaya, masa depannya besar. Tetapi, kemiskinan masih tinggal di sana, bangsa ini membutuhkan lebih dari sekadar wacana, bangsa ini membutuhkan kehadiran,” kata Menteri Iftitah di Gedung Kementrans, Jakarta, pada Senin 4 Mei 2026.
Sebanyak 1.458 TEP tahun 2026 akan diterjunkan ke 53 kawasan transmigrasi di seluruh Indonesia. Para peserta akan menjalankan kegiatan riset, kajian, serta pendampingan masyarakat secara langsung.
Program ini dinilai mampu memperkuat kehadiran negara sekaligus menjawab kebutuhan riil masyarakat. Hal ini sebagaimana telah dirasakan pada pelaksanaan TEP tahun 2025.
TEP dibagi dua masa pengabdian yaitu empat bulan untuk TEP Non Papua, dan satu tahun TEP di Papua. Para peserta lulusan D4 dan S1 akan terjun langsung ke masyarakat untuk mendampingi petani dan nelayan.
Patriot TEP juga bertugas membantu proses pendidikan di sekolah, mendukung layanan kesehatan. Serta, berkontribusi dalam pembangunan infrastruktur dasar dan penguatan ekonomi lokal di kawasan transmigrasi.
“Transmigrasi Patriot adalah panggilan. Satu tahun pengabdian untuk turun langsung ke lapangan, menghadirkan harapan baru, membuka peluang kerja. Karena Indonesia tidak dibangun oleh para penonton, tetapi oleh mereka yang memilih hadir bersama rakyatnya di garis depan,” ucapnya.
Program TEP 2025 dan 2026 melibatkan kolaborasi dengan berbagai perguruan tinggi terbaik di Indonesia. Yakni UI, UGM, ITB, IPB University, Undip, Universitas Padjadjaran, Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Unair, Universitas Brawijaya, dan Unhas.
Mentrans Iftitah memaparkan, program TEP terbuka bagi lulusan sarjana di luar 10 kampus yang telah berkolaborasi dengan Kementrans. Pengabdian dalam Transmigrasi Patriot bukan tentang kehebatan individu, melainkan tentang komitmen dan keberanian untuk bertahan dan memberi makna.
Seluruh pendaftar akan melewati tahapan seleksi yang hasilnya akan diumumkan pada bulan Juni. Kemudian, bulan Juli akan dilaksanakan pembekalan dan kemudian berangkat menuju daerah penugasan masing-masing di 53 kawasan transmigrasi.
“Indonesia tidak menunggu kita sempurna, Indonesia menunggu kita peduli. Indonesia menunggu kita hadir, Indonesia menunggu kita berbuat, Indonesia memanggil,” ujarnya.
Melalui program TEP tahun 2026, Kementrans berharap lahir generasi baru pelopor pembangunan. Tidak hanya mengejar kesuksesan pribadi, tetapi juga menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat dan bangsa.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....