Dewan Pers Sebut Media Arus Utama Tertekan Disrupsi Digital dan Etika
- 02 Mei 2026 17:20 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Komisioner Pengaduan dan Penegakan Etika Dewan Pers, Muhammad Jazuri, mengatakan kehadiran platform digital telah menggerus audiens media konvensional
- Data Kominfo menunjukkan 75 persen masyarakat masih mempercayai media mainstream
RRI.CO.ID, Jakarta — Industri media arus utama menghadapi tekanan besar dari platform digital. Tantangan internal terkait kualitas jurnalistik juga semakin menguat.
Komisioner Dewan Pers, Muhammad Jazuri, menilai platform digital menggerus audiens media konvensional. Platform itu meliputi YouTube, Facebook, Instagram, dan TikTok.
“Platform digital sangat memengaruhi media arus utama. Sampai sekarang, audiens media konvensional terus tergerus,” kata Jazuri dalam keterangan tertulis di Jakarta, Sabtu, 2 Mei 2026.
Menurutnya, tekanan media tidak hanya datang dari luar industri. Persoalan kepatuhan terhadap etika jurnalistik juga menjadi sorotan serius.
Jazuri mengungkapkan pengaduan terhadap media meningkat tajam sepanjang 2025. Kenaikannya bahkan mencapai 100 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Pelanggaran yang ditemukan beragam, mulai ketidakberimbangan berita hingga penggunaan informasi tanpa izin. Beberapa kasus juga mengarah pada tindak pidana.
Meski demikian, kepercayaan publik dinilai masih menjadi kekuatan utama media arus utama. Media terverifikasi tetap menjadi rujukan masyarakat memeriksa informasi.
“Sebanyak 75 persen masyarakat masih mempercayai media mainstream. Masyarakat kembali mencari media terverifikasi saat informasi simpang siur,” ujar Evi Rizki Monarsi.
Sementara itu, anggota Komisi Informasi Pusat (KIP), Samrotunnajah Ismail, menyoroti pentingnya keterbukaan informasi publik. Menurutnya, efisiensi anggaran tidak boleh menurunkan kualitas layanan informasi.
“Permohonan informasi kini bisa dilakukan secara daring. Tantangannya terletak pada kesadaran keterbukaan informasi publik,” kata Samrotunnajah.
Samrotunnajah menilai badan publik harus aktif menjangkau masyarakat di berbagai wilayah. Termasuk kawasan tertinggal, terdepan, dan terluar melalui kolaborasi bersama media.
Para pemangku kepentingan sepakat kolaborasi menjadi kunci menjaga ekosistem informasi sehat. Sinergi media, pemerintah, dan platform digital dinilai semakin penting.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....