Kementrans Siapkan 1.400 Sarjana Unggul Sukseskan Program TEP 2026

  • 30 Apr 2026 09:50 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Kementerian Transmigrasi
  • Tim Ekspedisi Patriot
  • Potensi Kawasan
  • Penelitian Kawasan

RRI.CO.ID, Jakarta - Kementerian Transmigrasi (Kementrans) siap menerjunkan 1.400 peserta ke 52 kawasan transmigrasi pada program Tim Ekspedisi Patriot (TEP) 2026. Program ini sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto sebagai langkah strategis memperkuat transformasi transmigrasi.

Menteri Transmigrasi M. Iftitah Sulaiman Suryanagara menyebut transformasi tersebut melalui pendampingan masyarakat berbasis ilmu pengetahuan. Serta, penguatan teknologi untuk menciptakan Sumber Daya Manusia (SDM) unggul di kawasan transmigrasi.

Hal ini disampaikannya dalam Rapat Pleno Hasil Reviu Laporan TEP 2025 pada 154 kawasan transmigrasi dengan 2.000 peserta. Menteri Iftitah menjelaskan, TEP 2026 dibuka dengan sejumlah persyaratan, diantaranya lulus S1 yang dapat mendaftar di website Kementrans.

“Mereka akan menjadi penggerak pemberdayaan masyarakat, sekaligus mitra pendamping transmigran. Hal ini dalam mengoptimalkan potensi kawasan transmigrasi yang tersebar pada sejumlah wilayah,” kata Menteri Iftitah dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, pada Kamis 30 April 2026.

Menteri Iftitah memaparkan, program TEP merupakan transformasi transmigrasi berorientasi pada penciptaan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru di kawasan transmigrasi. Peserta TEP 2026 Kementrans direncanakan akan menjalankan pendampingan selama satu tahun penuh.

Dengan fokus pada peningkatan produktivitas pertanian, penerapan teknologi tepat guna. Kemudian juga untuk penguatan kelembagaan ekonomi masyarakat, hingga perluasan akses pasar.

“Tim Ekspedisi Patriot 2026 bukan sekadar program penempatan sarjana di kawasan transmigrasi. Tetapi agenda besar menyiapkan SDM pendamping yang mampu menghadirkan solusi nyata bagi masyarakat,” ucapnya.

Program TEP dibangun berdasarkan hasil riset dan pemetaan potensi ekonomi di 154 kawasan transmigrasi. Hasil riset tersebut menunjukkan masih banyak komoditas unggulan yang perlu diperkuat melalui inovasi, hilirisasi, dan pendampingan berkelanjutan.

Program TEP 2026 direncanakan dijalankan melalui kolaborasi Kementerian Transmigrasi bersama 10 kampus mitra utama dan perguruan tinggi daerah. Sinergi ini menempatkan kawasan transmigrasi sebagai ruang implementasi inovasi dan pengabdian yang berdampak langsung bagi masyarakat.

“Fokusnya adalah kepada sarjana, karena nanti akan lebih dari 1.000 patriot itu utamanya itu di beberapa tempat. Tinggal selama satu tahun sehingga dampaknya akan lebih nyata begitu, inilah kenapa kita menggunakan sarjana,” ujarnya.

Melalui program tersebut, peserta TEP dirancang mendampingi transmigran mengoptimalkan hasil tanam melalui peningkatan budidaya berkelanjutan. Serta, penggunaan bibit unggul, pengolahan pascapanen, dan penguatan tata niaga yang memberi nilai tambah bagi petani.

“Diharapkan menjadi jawaban atas kebutuhan kawasan transmigrasi terhadap SDM unggul yang mampu mendampingi masyarakat. Menghubungkan inovasi dengan kebutuhan lapangan, sekaligus mendorong tumbuhnya ekonomi kawasan,” tegasnya.

Ketua Komite Eksekutif Percepatan Pembangunan Otonomi Khusus Papua, Velix Vernando Wanggai mendukung kembali dilanjutkanya program TEP di 2026. Velix yang juga Dirjen Pengembangan Ekonomi dan Pemberdayaan Masyarakat Kementrans berharap kawasan transmigrasi dapat berkontribusi pada pembangunan daerah.

"Kementerian Transmigrasi melakukan pendekatan baru di dalam transmigrasi di Papua. Pendekatan kolaborasi dengan perguruan tinggi, sehingga dapat memetakan potensi ekonomi wilayah, memetakan kelembagaan ekonomi yang kontekstual dengan Papua," tutup Velix.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....