Mendiktisaintek Dukung Arahan Presiden Minta Kampus Cari Alternatif LPG

  • 27 Apr 2026 15:30 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Presiden Prabowo Subianto mendorong pengembangan teknologi alternatif untuk mengurangi ketergantungan impor LPG nasional.
  • Menteri Brian Yuliarto menyatakan kampus dilibatkan dalam riset sumber energi alternatif guna mendukung kebijakan pemerintah.
  • Menteri Bahlil Lahadalia menegaskan konsumsi LPG tinggi dan keterbatasan bahan baku menjadi tantangan utama pengembangan industri domestik.

RRI.CO.ID, Jakarta - Presiden Prabowo Subianto meminta jajarannya melakukan pengembangan teknologi alternatif untuk mengurangi ketergantungan impor LPG. Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto menyatakan, kampus akan mendukung kebijakan tersebut.

Dukungan difokuskan pada pengembangan teknologi bagi Kementerian ESDM. Upaya ini dinilai penting untuk memperkuat ketahanan energi nasional

"Beberapa teknologi alternatif untuk mengurangi LPG tapi kita sifatnya kampus kita membantu Pak Menteri ESDM terkait teknologi. LPG ini kita sangat tinggi ketergantungan pada impor harganya juga naik, tadi kampus diminta untuk mencari sumber-sumber lain," ujar Brian usai rapat terbatas dengan Presiden Prabowo Subianto di Istana Kepresidenan Jakarta, Senin, 27 April 2026.

Ia mengatakan, dasar penelitian terkait pengembangan energi alternatif sebenarnya sudah tersedia. "Ada beberapa sumber yang sangat potensial, tapi semuanya akan kita lakukan penelitian, membantu mendukung Bapak Menteri ESDM," kata Brian.

Di kesempatan yang sama, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengungkapkan tingginya konsumsi LPG nasional menjadi tantangan utama. Ia menilai ketergantungan impor di sektor ini masih sangat besar.

"Kita tahu bahwa LPG kita, konsumsi kita 8,6 juta ton per tahun, dari itu hanya kurang lebih sekitar 1,6-1,7 yang produksinya dalam negeri. Selebihnya kita impor kurang lebih sekitar 7 juta, dan ini terjadi sejak konversi daripada minyak tanah ke LPG," ujar Bahlil.

Ia menegaskan, pemerintah terus mencari solusi untuk menekan impor LPG. Berbagai kajian dilakukan secara intensif untuk menemukan sumber energi alternatif.

"LPG ini kita putar otak terus, hampir tiap malam tidak kita istirahat, kita mengkaji sumber-sumber LPG-nya. Salah satu problem tidak bisa kita membangun industri LPG adalah bahan baku itu C3, C4, produksi di kita tidak terlalu banyak," kata Bahlil.

Pemerintah berharap kolaborasi antara kampus dan kementerian dapat menghasilkan inovasi energi baru. Langkah ini diharapkan mampu mengurangi ketergantungan impor sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....