Menag Targetkan KBC Bentuk Generasi Produktif dan Berkah

  • 22 Apr 2026 19:25 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Menteri Agama menegaskan KBC bertujuan melahirkan generasi produktif dan berkah
  • Menteri Nasaruddin Umar menyebut pendidikan harus menyeimbangkan kecerdasan intelektual dan kekuatan batin
  • Kementerian Agama catat sebanyak 305.334 peserta mengikuti pelatihan KBC melalui MOOC Pintar

RRI.CO.ID, Jakarta — Menteri Agama Nasaruddin Umar mengatakan, kurikulum berbasis cinta (KBC) menekankan produktivitas dan keberkahan. Menurutnya, kedua hal tersebut tidak dapat dipisahkan dalam pendidikan.

Menag menyebut kurikulum ini diarahkan membentuk generasi unggul secara karakter. Pendekatan ini juga menyeimbangkan kecerdasan intelektual dan kekuatan batin.

“Kurikulum ini menargetkan lahirnya generasi produktif dan berkah. Tidak semua produktif itu berkah dan tidak ada berkah tanpa produktif,” kata Menag saat keterangan pers usai peluncuran pelatihan KBC melalui skema Belajar Mandiri di Kantor Kementerian Agama (Kemenag), Jakarta Pusat, Rabu, 22 April 2026.

Ia menekankan pendidikan tidak hanya fokus pada kecerdasan berpikir. Keseimbangan antara akal dan hati dinilai penting dalam pembentukan karakter.

“Kita tidak ingin melahirkan generasi yang kering batinnya. Pikiran harus tajam dan hati tetap subur,” ucapnya.

Pendekatan ini juga mendorong sikap toleransi dan kepedulian sosial. Nilai tersebut diharapkan membentuk manusia yang utuh.

Kementerian Agama meluncurkan pelatihan KBC melalui skema Belajar Mandiri. Program ini ditujukan bagi komunitas yang berminat menerapkan kurikulum tersebut.

Kepala BMBPSDM Kemenag, Muhammad Ali Ramdani menyebut peserta pelatihan mencapai ratusan ribu orang. Mayoritas peserta berasal dari kalangan guru.

Pelatihan berlangsung pada 22 hingga 28 April 2026 melalui platform digital. Jumlah peserta tercatat mencapai 305.334 orang.

“Pelatihan ini memberikan pengetahuan dan kemampuan menginternalisasi nilai kurikulum. Pendidikan tidak hanya mentransfer ilmu tetapi juga nilai kehidupan,” katanya.

Program ini diharapkan menjadi model pengembangan pendidikan berbasis nilai. Pendekatan ini diyakini memperkuat karakter peserta didik.

Ali menegaskan nilai cinta menjadi inti dari seluruh ajaran agama. Hal ini menjadi landasan utama dalam implementasi kurikulum tersebut.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....