Menlu Ungkap Kendala Kapal Pertamina Masih Tertahan di Hormuz
- 22 Apr 2026 15:33 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Pemerintah terus berupaya melakukan negosiasi terkait dua kapal Pertamina yang masih tertahan di Selat Hormuz.
- Menteri Luar Negeri Sugiono menjelaskan komunikasi intensif dilakukan melalui perwakilan Indonesia di Iran untuk mencari solusi terbaik.
- Sugiono menyoroti perkembangan terkait persyaratan kapal yang dapat melintas di Selat Hormuz.
RRI.CO.ID, Jakarta - Menteri Luar Negeri Sugiono menyampaikan upaya negosiasi terus dilakukan terkait dua kapal Pertamina yang masih tertahan di Selat Hormuz. Pemerintah berupaya agar kapal tersebut segera mendapat izin melintas di jalur strategis tersebut.
Sugiono menjelaskan, komunikasi intensif dilakukan melalui perwakilan Indonesia di Iran untuk mencari solusi terbaik. "Tentu saja Kementerian Luar Negeri dalam hal ini Kedutaan Besar kita di Teheran juga terus melakukan pembicaraan," kata Sugiono dalam keterangan pers di Gedung Bina Graha, Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu, 22 April 2026.
Ia mengungkapkan, hambatan yang dihadapi berkaitan dengan dinamika internal yang terjadi di Iran. Kebijakan di tingkat pusat disebut tidak selalu dapat langsung diterapkan di lapangan.
"Karena kadang-kadang apa yang menjadi policy dari atas itu tidak serta-merta bisa diimplementasikan di lapangannya. Itu yang sedang dicari penyelesaiannya seperti apa," ucap Sugiono.
Selain itu, Sugiono juga menyoroti perkembangan terkait persyaratan kapal yang dapat melintas di Selat Hormuz. Ketentuan tersebut masih menjadi bagian dari proses negosiasi yang berlangsung.
"Kemudian ada beberapa perkembangan terkait dengan syarat-syarat dari kapal boleh lewat dan sebagainya. Itu masih menjadi hal-hal yang kita negosiasikan dan kita bicarakan," ujar Menlu.
Sugiono menyebut dalam konferensi internasional mayoritas negara menolak wacana pungutan biaya bagi kapal yang melintas. "Yang intinya, negara-negara yang ikut di dalam konferensi tersebut menolak segala jenis pemungutan fee/tol bagi kapal-kapal yang lewat di Hormuz," ujarnya.
"Selat Hormuz dikuasai Iran, tapi di situ kan ada Oman, kemudian ada UAE. Kemudian, karena ya, jadi beberapa contoh ada praktik-praktik tersebut dilakukan di situ," ucap Menlu.
Senada dengan itu, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menegaskan komunikasi dengan pihak Iran terus dilakukan. “Kita terus melakukan komunikasi intens dengan pihak dari Iran (terkait kapal Pertamina),” kata Bahlil.
Ia menambahkan, koordinasi antara Kementerian ESDM dan Kementerian Luar Negeri juga terus diperkuat. Kolaborasi tersebut bertujuan memantau sekaligus menangani perkembangan situasi secara menyeluruh.
Sebelumnya, dua kapal milik PT Pertamina International Shipping yaitu Pertamina Pride dan Gamsunoro masih berada di kawasan Teluk Arab. Keduanya belum dapat melintasi Selat Hormuz di tengah meningkatnya ketegangan kawasan.
Situasi ini dipicu oleh penutupan kembali Selat Hormuz oleh Iran setelah sempat dibuka sebelumnya. Kondisi tersebut berdampak pada jalur pelayaran internasional yang vital bagi distribusi energi.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....