Founder CQRS: Karbon Bukan Satu-satunya Indikator dalam Keberlanjutan
- 22 Apr 2026 12:36 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Yuliasman Chaniago menilai fokus keberlanjutan masih terlalu sempit pada emisi karbon
- Pendekatan tersebut berisiko mengabaikan biodiversitas, kesehatan, dan aspek sosial
- Rondang Siregar mengingatkan fenomena carbon tunnel vision melemahkan sistem ekologi
RRI.CO.ID, Jakarta — Praktik keberlanjutan dinilai masih terjebak pada fokus sempit pengurangan emisi karbon sehingga mengabaikan aspek biodiversitas, kesehatan, dan sosial. Pendekatan ini berisiko melahirkan solusi parsial yang tidak menyelesaikan persoalan lingkungan secara menyeluruh.
Founder Center for Quality Resilience and Sustainability (CQRS) Indonesia, Yuliasman Chaniago, menegaskan karbon bukan satu-satunya indikator dalam keberlanjutan. Ia menyebut tanpa sistem lingkungan yang kuat, upaya pengurangan emisi tidak cukup menjawab tantangan yang ada.
“Karbon itu penting, tapi kesehatan manusia tidak ditentukan oleh emisi saja. Tanpa biodiversitas dan sistem lingkungan yang kuat, hanya akan menyelesaikan sebagian masalah,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Rabu 22 April 2026.
Ia juga menyoroti belum terintegrasinya risiko lingkungan dan perubahan iklim dalam sistem kesehatan nasional. Padahal, menurutnya, kesehatan manusia tidak dapat dipisahkan dari kondisi lingkungan yang menopangnya.
“Masalahnya bukan pada capaian, tapi pada kedalaman integrasi. Kesehatan tidak bisa lagi dipisahkan dari sistem lingkungan yang menopangnya,” katanya.
Sementara itu, peneliti RCCC-UI, Rondang Siregar, mengingatkan adanya fenomena carbon tunnel vision yang membuat kebijakan terlalu berfokus pada emisi karbon. Ia menilai pendekatan tersebut berpotensi mengabaikan krisis biodiversitas dan melemahkan sistem ekologi.
“Terlalu fokus bicara karbon, bisa lupa bahwa tanpa biodiversitas. Tak ada sistem alam yang bisa menyerap karbon,” ujarnya.
Rondang menegaskan biodiversitas merupakan fondasi utama keberlanjutan, bukan sekadar pelengkap. Ia menilai pendekatan yang hanya menitikberatkan pada karbon dapat memicu praktik yang tidak memulihkan ekosistem secara utuh.
Diskusi dalam forum IS2P ini menekankan pentingnya pendekatan keberlanjutan yang terintegrasi lintas sektor. Tanpa melihat keterkaitan antara lingkungan, kesehatan, dan sosial, upaya yang dilakukan berisiko meninggalkan krisis baru di masa depan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....