Menteri Bahlil Umumkan Temuan Gas Raksasa 5 Tcf di Kutai Kalimantan Timur

  • 20 Apr 2026 15:47 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Bahlil Lahadalia mengumumkan temuan gas raksasa 5 Tcf di Blok Geliga, Kalimantan Timur.
  • Produksi gas ditargetkan mulai 2028 dengan kapasitas hingga 3000 MMSCFD dan kondensat 150 ribu barel.
  • Temuan ini mendukung kemandirian energi nasional dan mengurangi ketergantungan impor.

RRI.CO.ID, Jakarta - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengumumkan penemuan cadangan gas raksasa di Kalimantan Timur. Penemuan tersebut berasal dari Blok Geliga yang saat ini dikelola oleh perusahaan Eni.

Bahlil menjelaskan bahwa Blok Geliga berpotensi menghasilkan sumber energi gas dalam jumlah yang sangat besar bagi negara. Lanjutnya, wilayah kerja baru tersebut juga menyimpan kandungan kondensat yang setara dengan ratusan juta barel minyak bumi.

"Saya mengumumkan bahwa Eni baru mendapatkan satu wilayah kerja baru Gas Jumbo dari Blok Geliga. Yang menghasilkan 5 triliun cubic feed (Tcf) untuk gas dan kita mendapat kondensat sekitar 300 juta barel minyak equivalent," kata Bahlil dalam konferensi pers di Jakarta, Senin, 20 April 2026.

Pemerintah menargetkan produksi gas dari perusahaan asal Italia tersebut akan mengalami peningkatan signifikan pada tahun 2028. Volume produksi diharapkan melonjak hingga mencapai angka 2000 Million Standard Cubic Feet per Day (MMSCFD).

Output gas diproyeksikan akan terus bertumbuh hingga menyentuh angka 3000 MMSCFD. Target ambisius tersebut direncanakan dapat terealisasi sepenuhnya pada tahun 2030 sebagai bagian dari ketahanan energi.

Bahlil menyatakan bahwa Indonesia akan mulai memproduksi sekitar 90 ribu barel kondensat mulai tahun 2028 mendatang. Lanjutnya, jumlah produksi tersebut ditargetkan terus bertambah hingga mencapai 150 ribu barel pada periode tahun berikutnya.

"Ini adalah strategi bagaimana gas kita tidak kita lakukan impor dari negara manapun. Kita harus memenuhi kebutuhan dalam negeri," kata Bahlil.

Pemanfaatan sumber gas nasional akan didorong sepenuhnya untuk mendukung percepatan program hilirisasi industri di dalam negeri. Penambahan produksi kondensat diharapkan mampu menekan angka impor minyak mentah (crude oil) secara efektif dan signifikan.

Indonesia sebelumnya telah menemukan Blok Gula yang memiliki kapasitas produksi gas sebesar 2 Trillion Cubic Feet (Tcf). Wilayah tersebut juga tercatat menyumbang cadangan kondensat sebesar 75 juta barel untuk memperkuat stok energi nasional.

"Jadi totalnya, untuk gas dari 2 blok Geliga dan Gula menghasilkan 7 Tcf yang akan mulai berproduksi pada 2028 dan 3,750 juta barel kondensat. Ini baru satu, kita belum bicara Blok Masela dan blok lainnya," kata Bahlil.

Bahlil menyampaikan bahwa ketegangan geopolitik di wilayah Timur Tengah telah memberikan dampak besar terhadap dinamika energi. Lanjutnya, gangguan pada jalur distribusi internasional memaksa setiap negara untuk memperkuat kemandirian sumber daya alam masing-masing.

Konsumsi bahan bakar nasional saat ini tercatat telah mencapai angka sebesar 1,6 juta barel setiap harinya. Realisasi lifting minyak pada tahun 2025 terpantau masih berada pada kisaran angka 605 ribu barel.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral menargetkan angka lifting dapat meningkat menjadi 610 ribu pada 2026. Lanjutnya, Presiden Prabowo Subianto telah menetapkan target produksi hingga 1 juta barel per hari pada tahun 2030.

Bahlil menegaskan bahwa pemanfaatan cadangan domestik merupakan langkah mutlak guna mewujudkan visi swasembada energi bagi bangsa. "Dengan demikian, maka menuju swasembada energi harus memenuhi stok kebutuhan dengan memanfaatkan cadangan-cadangan di RI," ucap Bahlil.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....