Susu dalam Bantuan Pangan, Pakar Sarankan Lebih Selektif

  • 20 Apr 2026 11:42 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Guru Besar Ilmu Gizi dan Kesehatan Universitas Muhammadiyah Jakarta, Prof. Tria Astika Indah Permatasari, mengatakan tidak semua produk yang dianggap susu memiliki kandungan gizi yang tepat
  • Sekretaris Jenderal Yayasan Abhipraya Insan Cendekia Indonesia (YAICI), Satria Yudhistira, mengatakan pihaknya masih menemukan bantuan pangan instan di wilayah terdampak bencana
  • Sejak 2018, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) juga telah menegaskan bahwa kental manis tidak dapat dikonsumsi sebagai minuman susu

RRI.CO.ID, Jakarta - Produk seperti kental manis dan susu UHT kerap menjadi bagian dari bantuan pangan di daerah bencana karena dinilai praktis. Namun, pemilihan produk tersebut dinilai perlu lebih selektif agar sesuai dengan kebutuhan gizi anak.

Guru Besar Ilmu Gizi dan Kesehatan Universitas Muhammadiyah Jakarta, Prof. Tria Astika Indah Permatasari, mengatakan tidak semua produk yang dianggap susu memiliki kandungan gizi yang tepat. Ia menyontohkan, kental manis yang memiliki kandungan gula tinggi dan tidak sesuai untuk pertumbuhan anak.

“Masih banyak praktik pemberian makanan yang tidak sesuai dengan kebutuhan anak. Salah satunya penggunaan kental manis yang tentu tidak tepat untuk pertumbuhan balita,” kata Prof. Tria dalam webinar pembekalan kader dan relawan penanganan gizi anak pascabencana, ditulis, Senin, 20 April 2026.

Berdasarkan SNI 01-2971-1998, kandungan protein kental manis berkisar 7–10 persen dan hanya memenuhi sebagian kecil kebutuhan harian. Sebaliknya, kandungan gula pada produk tersebut cukup tinggi, yakni mencapai 40–50 persen.

Sejak 2018, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) juga telah menegaskan bahwa kental manis tidak dapat dikonsumsi sebagai minuman susu. Produk tersebut tidak dapat menggantikan ASI dan tidak dianjurkan untuk bayi usia 0–12 bulan.

Selain kental manis, susu UHT dalam kemasan juga sering dijadikan bantuan pangan, termasuk varian berperisa. Padahal, produk tersebut dapat mengandung tambahan gula hingga sekitar 11 gram per sajian.

“Susu dengan tambahan gula, termasuk yang berperisa, perlu diwaspadai. Kandungan gulanya bisa cukup tinggi dan tidak sesuai dengan kebutuhan anak,” ujarnya.

Prof. Tria memahami bahwa dalam kondisi bencana, aspek kepraktisan sering menjadi pertimbangan utama dalam penyaluran bantuan. Namun, jika tidak dikontrol, hal tersebut berpotensi memicu pola makan yang kurang sehat dalam jangka panjang.

Ia mengingatkan perubahan pola makan yang berlangsung selama beberapa bulan dapat berdampak pada kesehatan anak. Risiko yang muncul antara lain gangguan gizi hingga masalah metabolik di kemudian hari.

“Kalau ini berlangsung tiga sampai enam bulan, bukan hanya soal kenyang. Tapi, bisa terjadi perubahan pola makan yang tidak sehat dan berdampak jangka panjang,” ucapnya.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal Yayasan Abhipraya Insan Cendekia Indonesia (YAICI), Satria Yudhistira, mengatakan pihaknya masih menemukan bantuan pangan instan di wilayah terdampak bencana. Ia menilai kondisi tersebut perlu mendapat perhatian, terutama saat memasuki fase pemulihan.

“Banyak bantuan yang datang berupa pangan kemasan seperti kental manis, mie instan, dan minuman manis. Ini awalnya mungkin untuk kondisi darurat, tapi setelah berbulan-bulan masih dikonsumsi dan akhirnya jadi kebiasaan,” ujar Satria.

Menurutnya, tanpa edukasi yang tepat, kebiasaan konsumsi makanan tinggi gula dapat terus berlanjut. Hal ini berpotensi memengaruhi pola konsumsi dan kesehatan anak dalam jangka panjang.

“Kalau ini tidak diedukasi, kebiasaan ini akan terus berlanjut. Dampaknya bukan hanya saat bencana, tapi juga ke depan,” kata Satria.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....