BBM Nonsubsidi Naik, Pemerintah Diminta Jaga Stabilitas Harga Kebutuhan Pokok

  • 19 Apr 2026 15:47 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Rivqy Abdul Halim meminta kenaikan BBM nonsubsidi tidak berdampak pada harga kebutuhan pokok.
  • DPR menekankan pentingnya menjaga stabilitas pangan dan daya beli masyarakat di tengah tekanan ekonomi global.
  • Pemerintah didorong transparan menjelaskan kondisi sektor energi agar publik memahami kebijakan.

RRI.CO.ID, Jakarta - Anggota Komisi VI DPR RI Rivqy Abdul Halim mengingatkan dampak harga energi. Ia meminta pemerintah menjamin kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM) nonsubsidi tidak memicu lonjakan harga kebutuhan pokok masyarakat.

Rivqy menekankan pentingnya menjaga stabilitas harga pangan demi melindungi daya beli warga dari tekanan ekonomi saat ini. Menurutnya, pemerintah wajib melakukan pengawasan ketat agar penyesuaian harga energi ini tidak merembet ke sektor kebutuhan dasar.

“Pemerintah perlu memastikan bahwa kenaikan ini tidak merembet ke harga-harga kebutuhan pokok. Stabilitas harga pangan dan barang penting lainnya harus tetap dijaga, sehingga daya beli masyarakat tidak tergerus,” ujat Rivqy di Jakarta, Minggu, 19 April 2026.

Politisi Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (F-PKB) tersebut memahami penyesuaian harga merupakan langkah yang sulit untuk dihindari pemerintah. Lanjutnya, tekanan situasi global pada sektor energi dunia membuat pemerintah mengambil opsi kebijakan yang cukup terasa mendadak ini.

Rivqy menilai momentum serta pola komunikasi kebijakan sangat krusial guna mencegah munculnya kegelisahan pada lapisan publik. Menurutnya, penyampaian informasi yang tepat akan membantu masyarakat dalam menyerap setiap perubahan harga secara lebih tenang sekarang.

“Dalam situasi global dan tekanan terhadap sektor energi, kita memahami bahwa penyesuaian harga BBM bisa menjadi opsi yang pada akhirnya harus diambil pemerintah. Namun, momentum dan komunikasi kebijakan ini perlu diperhatikan agar tidak menimbulkan kegelisahan publik,” kata Rivqy.

Pemerintah dituntut menyampaikan kondisi riil sektor energi nasional secara transparan kepada seluruh masyarakat di tanah air. Lanjutnya, penjelasan mengenai beban subsidi serta tantangan distribusi akan membuat publik memahami urgensi dari setiap kebijakan baru.

Transparansi informasi dinilai sebagai kunci utama agar warga tidak hanya menerima keputusan secara pasif tanpa pemahaman. Menurutnya, pemaparan data yang jujur mengenai ketersediaan stok nasional sangat diperlukan guna menjaga kepercayaan masyarakat kepada pemerintah.

“Kami meminta pemerintah menjelaskan secara komprehensif bagaimana kondisi sebenarnya sektor BBM kita saat ini. Ini penting agar masyarakat tidak hanya menerima kebijakan, tetapi juga memahami urgensinya,” ucap Rivqy.

PT Pertamina (Persero) resmi menaikkan harga Pertamax Turbo dengan kadar Research Octane Number (RON) 98 per Sabtu kemarin. Harga produk unggulan tersebut melonjak tajam menjadi Rp19.400 per liter dari sebelumnya yang hanya sebesar Rp13.100.

Kenaikan harga yang sangat signifikan juga terjadi pada produk bahan bakar jenis Dexlite di seluruh wilayah Indonesia. Komoditas tersebut kini dibanderol seharga Rp23.600 per liter dari nilai awal yang berada pada angka Rp14.200.

Bahan bakar jenis Pertamina DEX turut mengalami lonjakan harga yang mencapai level angka Rp23.900 untuk setiap liternya. Harga sebelumnya berada pada posisi Rp14.500 sehingga selisih kenaikan tersebut dirasakan cukup tinggi.

Produk Pertamax dengan kadar Research Octane Number (RON) 92 diketahui masih tertahan pada level harga Rp12.300. Pemerintah juga memastikan harga Pertalite tidak mengalami perubahan sebesar Rp10.000 per liter dan tarif untuk Pertamina Biosolar masih berada pada harga Rp6.800.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....