Peluang Investasi Energi RI–Prancis Terbuka, Dorong Hilirisasi dan Energi Laut

  • 15 Apr 2026 19:14 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Kerja sama Indonesia-Prancis membuka potensi pengembangan energi laut, hilirisasi nikel, dan sektor energi di Indonesia timur.
  • Indonesia dinilai masih cukup lemah dalam teknologi dan pendanaan, sehingga perlu penguatan agar kerja sama lebih menguntungkan.

RRI.CO.ID, Jakarta - Kerja sama Indonesia dan Prancis dinilai membuka peluang investasi di sektor energi. Sejumlah potensi seperti energi laut dan hilirisasi nikel menjadi sorotan.

Ketua Pusat Studi Energi Terbarukan Indonesia, Surya Dharma, mengatakan Prancis mulai melirik energi terbarukan di Indonesia. Salah satunya melalui studi pengembangan energi gelombang laut.

Ia menyebut proyek percontohan tersebut telah dilakukan di kawasan timur Indonesia. Namun, hingga kini belum masuk tahap komersial.

“Potensi energi laut kita besar, terutama di Indonesia timur. Ini bisa dikembangkan untuk kebutuhan listrik,” ujarnya dalam perbincangan bersama Pro3 RRI, Rabu 15 April 2026.

Surya menambahkan, wilayah timur Indonesia masih kekurangan pasokan energi. Hal ini berdampak pada sektor rumah tangga hingga industri perikanan.

Menurutnya, pengembangan energi lokal akan mendukung keberlanjutan ekonomi daerah. Selain itu, investasi juga bisa diarahkan ke sektor hilirisasi.

“Untuk nikel dan baterai, prospeknya masih besar. Ini bisa jadi peluang kerja sama dengan Prancis,” katanya.

Meski demikian, ia menilai posisi tawar Indonesia belum sepenuhnya kuat. Hal ini karena ketergantungan pada teknologi dan pendanaan asing.

“Kita punya sumber daya, tapi teknologi dan finansial ada di mereka. Ini yang harus diperkuat,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Prodi Ilmu Ketahanan Nasional UGM, Armaidy Armawi, menilai kerja sama energi berkaitan erat dengan strategi geopolitik. Ia menyebut dinamika global memengaruhi arah kebijakan energi.

Menurutnya, langkah Indonesia menjalin hubungan dengan berbagai negara menunjukkan strategi yang fleksibel. Namun, hal ini juga menuntut kesiapan dalam negeri.

“Presiden mungkin sudah beberapa langkah ke depan. Tapi di dalam negeri harus ada sistem yang mendukung,” ujarnya.

Armaidy menegaskan pentingnya orkestrasi kebijakan nasional. Tanpa koordinasi kuat, peluang kerja sama tidak akan optimal.

Ia juga menekankan bahwa tujuan utama tetap pada kepentingan nasional. Hal ini mencakup kedaulatan energi dan pertahanan negara.

“Kita cinta damai, tapi kedaulatan adalah segalanya. Itu harus jadi dasar dalam setiap kerja sama,” katanya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....