Armada Kapal Pertamina Topang Distribusi Energi di tengah Tantangan Global
- 12 Apr 2026 16:34 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Kapal pengangkut LPG Pertamina MT Gas Attaka berhasil menyalurkan energi ke area sulit akses
RRI.CO.ID, Jakarta - Kapal pengangkut LPG Pertamina MT Gas Attaka berhasil menyalurkan energi ke area sulit akses. Pekan ini, Kapal Pertamina berhasil sandar di Jetty Integrated Terminal LPG Amurang, Kabupaten Minahasa Selatan, Sulawesi Utara.
Kapal berkapasitas muatan sekitar 1.700 metrik ton LPG. Kapal ini berperan penting dalam mendukung ketahanan pasokan LPG di wilayah Sulawesi dan Kalimantan.
“Pergerakan kapal LPG terus kami atur menyesuaikan kebutuhan di berbagai wilayah. Armada seperti MT Gas Attaka menjadi bagian dari sistem distribusi yang menghubungkan titik suplai hingga ke terminal distribusi, termasuk di wilayah dengan keterbatasan akses,” ujar Direktur Armada Logistik PT Pertamina Patra Niaga, Arif Yunianto dalam keterangannya yang diterima di Jakarta, Jumat.
Kapal Pertamina lainnya, LPG Tanker Gas Ambalat juga berhasil sandar di Kalbut, Situbondo. Gas Ambalat membawa pasokan LPG untuk kebutuhan di wilayah Jawa Timur dan sekitarnya.
Vice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero) Muhammad Baron mengungkapkan, jalur maritim menjadi salah satu penopang distribusi energi. Distribusi jalur maritim berperan krusial dalam penyaluran BBM dan LPG ke wilayah Indonesia yang merupakan negara kepulauan.
"Di tengah geopolitik global, Pertamina terus berkomitmen untuk mengupayakan distribusi energi. Kapal-kapal kami dalam perjalanan untuk mengantar energi ke masyarakat," jelasnya.
Secara keseluruhan, Pertamina melalui subholding Downstream mengoperasikan sebanyak 345 kapal, baik kapal milik maupun kapal chartered. Terdiri dari 271 kapal pengangkut BBM/BBK, 27 kapal pengangkut Crude, 4 Kapal pengangkut petrochemical, dan 43 kapal pengangkut LPG.
Armada tersebut melayani berbagai rute termasuk 57 wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) yang tersebar di berbagai penjuru Nusantara. Mulai dari Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku hingga Papua.
Baron menambahkan, awak kapal bekerja secara bergantian selama 24 jam guna memastikan distribusi berjalan aman dan tepat waktu. Khususnya saat menghadapi tantangan cuaca ekstrem dan navigasi geografis di wilayah kepulauan dan daerah 3T.
Pertamina juga memperkuat operasional di seluruh lini bisnisnya dalam menghadapi gejolak geopolitik yang tengah terjadi. Sebagai perusahaan energi terintegrasi, produksi hulu migas didorong untuk meningkat sehingga dapat menambah kontribusi produksi dalam negeri.
Optimalisasi pengolahan kilang terus diupayakan. Semua itu untuk memenuhi kebutuhan produk energi bagi masyarakat dan sektor industri.
Pertamina juga memperkuat kolaborasi dengan pemerintah daerah dan aparat penegak hukum untuk menjaga tata kelola distribusi energi nasional. Pertamina mendukung langkah tegas aparat dalam menindak oknum yang melakukan penimbunan maupun penyalahgunaan BBM dan LPG subsidi.
“Masyarakat dapat berperan aktif dengan melaporkan indikasi penyalahgunaan energi melalui aparat penegak hukum maupun Pertamina Contact Center 135. Pertamina juga mengajak masyarakat untuk menjaga energi bersama-sama, dengan bijak menggunakan energi sesuai kebutuhan,” tutup Baron.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....