Bapanas Siapkan Intervensi Jaga Harga Ayam Usai Lebaran Idulfitri 2026
- 10 Apr 2026 13:50 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Bapanas menyiapkan intervensi harga ayam hidup pasca-Idulfitri agar peternak kecil tidak merugi
- Koordinasi dilakukan dengan produsen DOC, pakan, dan pelaku usaha besar untuk menstabilkan harga
- Harga ayam hidup nasional berada 3,7 persen di bawah HAP produsen
- Sejumlah daerah masih mencatat harga ayam di bawah dan di atas HAP, seperti Sumatera Selatan dan Sulawesi Selatan
- BPS mencatat daging ayam ras menjadi komoditas paling bergejolak pada inflasi Maret
- Awal April, jumlah daerah yang mengalami kenaikan IPH ayam mulai menurun
- Pemerintah menyiapkan SPHP jagung pakan sebesar Rp 678 miliar untuk menekan biaya produksi
- Solusi permanen yang disiapkan pemerintah meliputi pembangunan pabrik pakan dan DOC milik pemerintah
- Indeks harga yang diterima petani dan peternak terus meningkat sejak 2025, menunjukkan dampak positif kebijakan pangan
RRI.CO.ID, Jakarta - Badan Pangan Nasional (Bapanas) menyiapkan langkah intervensi untuk menjaga harga ayam hidup usai Idulfitri. Upaya itu dilakukan agar peternak kecil tidak merugi pada fase pascalebaran.
Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas I Gusti Ketut Astawa menyebut koordinasi akan dilakukan dengan produsen DOC dan pakan. Ia menegaskan perlunya kolaborasi multipihak agar harga kembali stabil.
"Untuk ayam hidup, kita akan memanggil DOC dan pakan. Kami juga akan memanggil pemain besar agar harga terkendali," ucapnya di Pasar Menteng Pulo, Jakarta, Kamis 9 April 2026.
"Jangan sampai peternak kecil terganggu oleh penurunan harga ayam. Kami akan terus bergerak karena fase pascalebaran pasti memengaruhi harga," katanya.
Bapanas mencatat, harga ayam hidup di beberapa daerah melemah dibandingkan HAP produsen. HAP ayam hidup ditetapkan pemerintah maksimal Rp 25.000 per kilogram.
Sumatera Selatan tercatat di Rp 21.938 per kilogram atau 12,25 persen di bawah HAP. Namun harga ayam hidup di Sulawesi Selatan masih berada di Rp 27.409 per kilogram atau 9,64 persen di atas HAP.
Rerata harga ayam hidup nasional berada di Rp 24.076 per kilogram. Angka itu setara 3,7 persen di bawah HAP produsen yang ditetapkan pemerintah.
Sebelumnya Badan Pusat Statistik (BPS) menyebut daging ayam ras menjadi komoditas bergejolak pada rilis inflasi Maret. Komoditas ini memberi andil tertinggi pada inflasi bulanan maupun tahunan.
Jumlah daerah yang mengalami kenaikan IPH daging ayam ras mencapai 237 kabupaten. Angka itu dicatat hingga pekan terakhir Maret berdasarkan pemantauan BPS.
Memasuki awal April, kenaikan IPH daging ayam ras mulai mereda. BPS mencatat jumlah daerah naik IPH menurun menjadi 148 kabupaten.
Daerah yang mengalami penurunan IPH daging ayam ras juga bertambah. Jumlahnya mencapai 125 kabupaten berdasarkan laporan terbaru BPS.
Ketut menilai keseimbangan harga harus dijaga dari hulu hingga hilir. Ia menekankan setiap lini rantai pasok perlu menerapkan prinsip kewajaran harga.
"Tatkala harga di hulu menurun, harga di hilir harus ikut turun. Jangan sampai peternak dirugikan oleh ketidakseimbangan harga," ucapnya.
Pemerintah berharap sinergi dengan pelaku usaha dapat memulihkan kewajaran harga unggas. Mekanisme penyerapan menjadi fokus agar harga beli di peternak terjaga.
"Kami akan koordinasi dengan peternak dan pelaku usaha besar. Mereka diharapkan dapat menyerap produksi agar harga kembali wajar," ucapnya.
Pemerintah juga menyiapkan program SPHP jagung pakan untuk menekan biaya produksi. Program ini ditujukan membantu peternak unggas dan nonunggas mendapatkan jagung terjangkau.
Anggaran SPHP jagung pakan tahun 2026 mencapai Rp 678 miliar. Total alokasi salur mencapai 242 ribu ton untuk mengamankan kebutuhan pakan nasional.
Kepala Bapanas, Andi Amran Sulaiman sebelumnya memaparkan solusi jangka panjang dan pendek untuk harga ayam. Ia memastikan implementasi solusi dilakukan progresif oleh pemerintah.
"Solusi permanen adalah membangun pabrik pakan dan DOC milik pemerintah. Solusi jangka pendek adalah meminta pabrik pakan tidak menaikkan harga," katanya.
Pemerintah menilai kebijakan pangan Presiden Prabowo berdampak positif bagi produsen dalam negeri. Dampaknya terlihat dari tren indeks harga yang diterima petani dan peternak.
Data BPS menunjukkan indeks harga petani padi konsisten di atas 140 sejak Juli 2025. Nilai Maret 2026 tercatat 144,52 dan lebih tinggi dari Maret 2025 yang berada di 137,94.
Indeks harga yang diterima peternak unggas pada Maret 2026 mencapai 138,19. Nilai itu merupakan yang tertinggi sejak 2023 dan terus naik sejak Desember 2025.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....