Waspada Karhutla 2026: KLH Tekankan Sinergi Hadapi Lonjakan Titik Panas

  • 07 Apr 2026 18:50 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq, menegaskan pentingnya penguatan sinergi dalam menghadapi kebakaran hutan dan lahan (karhutla)
  • pemerintah daerah diminta segera menetapkan status siaga darurat, mengintensifkan upaya pencegahan
  • BMKG menekankan pentingnya kesiapsiagaan nasional dalam menghadapi potensi karhutla 2026

RRI.CO.ID, Jakarta – Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq, menegaskan pentingnya penguatan sinergi dalam menghadapi kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Salah satunya sinergi antara pemerintah pusat dan daerah.

Penegasan tersebut disampaikan dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Karhutla 2026. Rakor dilakukan menyusul lonjakan signifikan jumlah titik panas di berbagai wilayah.

Berdasarkan pantauan satelit Terra dan Aqua hingga 5 April 2026, tercatat sekitar 700 titik panas secara nasional. Angka ini meningkat hampir tiga kali lipat dibandingkan periode yang sama pada awal tahun 2025.

Sementara itu, luas lahan terbakar hingga Februari 2026 mencapai 32.637,48 hektare. Atau melonjak hingga 20 kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya.

“Upaya pengendalian karhutla tahun ini menjadi bukti komitmen terhadap kemanusiaan dan keberlanjutan ekosistem. Langkah operasional harus segera diperkuat dan dilaksanakan secara terpadu,” kata Hanif di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, Selasa, 7 April 2026.

Mengacu pada prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), musim kemarau 2026 berpotensi berdampak luas. Mulai dari sektor pertanian dan perkebunan hingga lingkungan, kualitas udara, dan peningkatan risiko kebakaran hutan dan lahan.

Untuk itu, pemerintah daerah diminta segera menetapkan status siaga darurat, mengintensifkan upaya pencegahan. Lalu memastikan kesiapan sumber daya, serta mengaktifkan kembali satuan tugas terpadu di tingkat provinsi hingga kabupaten/kota.

Selain upaya pencegahan, penegakan hukum terhadap pelaku pembakaran lahan juga harus dilakukan secara tegas dan konsisten. Masyarakat pun diimbau tidak membuka lahan dengan cara membakar.

Hanif mengingatkan, karhutla merupakan salah satu penyumbang utama emisi gas rumah kaca yang mempercepat pemanasan global. Dampaknya tidak hanya merusak lingkungan, tetapi juga memicu gangguan kesehatan dan kerugian ekonomi yang besar.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menekankan pentingnya kesiapsiagaan nasional dalam menghadapi potensi karhutla 2026. Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menjelaskan bahwa kondisi iklim tahun 2026 berpotensi lebih kering dibandingkan normal.

Ia menyebutkan adanya indikasi musim kemarau akan datang lebih awal dan berlangsung lebih panjang. Ia menyebut , semester kedua 2026 diprediksi berkembang menuju El Nino lemah hingga moderat dengan peluang sekitar 50–80 persen

“Perlu dipahami bahwa kemarau dan El Nino adalah dua fenomena berbeda. Kemarau merupakan siklus klimatologis, namun jika bersamaan dengan El Nino, curah hujan akan berkurang dan kondisi menjadi lebih kering,” katanya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....