Titiek Soeharto Ingatkan El Nino 2026 Jadi Alarm Ketahanan Pangan
- 07 Apr 2026 12:41 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Titiek Soeharto menilai El Nino 2026 sebagai alarm serius bagi ketahanan pangan nasional, terutama produksi padi.
- Pemerintah memastikan stok beras aman hingga 10-11 bulan dengan cadangan mencapai 4,6 juta ton.
- Kementan menginstruksikan pemetaan wilayah rawan kekeringan serta optimalisasi irigasi untuk antisipasi dampak El Nino.
RRI.CO.ID, Jakarta - Ketua Komisi IV DPR Siti Hediati Soeharto (Titiek Soeharto) memberikan peringatan serius. Ia menilai fenomena El Nino 2026 merupakan alarm bagi stabilitas produksi pangan nasional terutama pada komoditas padi.
Titiek menekankan bahwa ketahanan pangan bukan lagi sekadar persoalan teknis produksi semata sekarang ini. Isu strategis ini sangat dipengaruhi oleh dinamika geopolitik internasional serta perubahan iklim dunia yang semakin ekstrem.
“Prediksi terjadinya El Nino 2026 menjadi alarm serius bagi kita semua. Pengalaman sebelumnya menunjukkan dampak signifikan terhadap penurunan produksi pangan nasional, terutama padi,” ujar Titiek dalam raker dan RDP dengan Menteri Pertanian/Kepala Bapanas, Menteri Kelautan dan Perikanan, Direktur Utama Perum BULOG, Direktur Utama PT PUPUK INDONESIA, dan Direktur Utama PT RNI/ID FOOD di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Selasa, 7 April 2026.
Legislator tersebut menyoroti lonjakan harga pangan global yang dilaporkan oleh Organisasi Pangan dan Pertanian (Food and Agriculture Organization/FAO). Ia menyebutkan kenaikan harga mencapai 2,4 persen pada Maret akibat konflik bersenjata di wilayah Timur Tengah.
Titiek meminta pemerintah untuk waspada terhadap ketergantungan impor bahan baku pangan dan pakan ternak. Komisi IV DPR akan memaksimalkan fungsi pengawasan demi kesejahteraan seluruh petani.
“Kondisi ini tentu akan berdampak langsung terhadap biaya produksi dalam negeri, distribusi pangan hingga stabilitas harga di tingkat konsumen. Selain permasalahan produksi dan harga pangan, terdapat beberapa hal yang perlu kita cermati dan mendapat perhatian,” kata Titiek.
Sementara itu, Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa persediaan beras nasional dalam kondisi sangat kuat. Ia memastikan ketahanan pangan Indonesia sanggup menghadapi ancaman kemarau ekstrem yang diprediksi segera melanda sebagian besar wilayah.
Amran menjelaskan bahwa jumlah cadangan beras per tanggal 7 April 2026 telah menembus angka 4,6 juta ton. Capaian tersebut diklaim sebagai rekor stok tertinggi sepanjang sejarah perjalanan sektor pertanian di tanah air.
“Jadi kemarin 4,5 sekarang 4,6 juta ton, ini tertinggi sepanjang sejarah. Kondisi stok beras nasional di Indonesia dipastikan aman untuk 10 sampai 11 bulan ke depan,” ujar Amran.
Pemerintah memproyeksikan persediaan pangan tetap stabil meski fenomena iklim El Nino diperkirakan akan berlangsung selama enam bulan. Amran optimistis kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi walaupun ketegangan geopolitik global mulai mengganggu rantai pasok dunia.
Mentan menginstruksikan seluruh kepala daerah untuk segera memetakan wilayah yang menjadi langganan kekeringan di provinsi masing-masing. Pihaknya juga telah menyiagakan sebanyak 171.000 unit alat mesin pertanian untuk mendukung optimalisasi irigasi sawah petani.
“Kementerian Pertanian menginstruksikan seluruh gubernur dan bupati untuk melakukan pemetaan wilayah rawan kekeringan serta sistem peringatan dini. Upaya ini juga mencakup optimalisasi pengolahan air irigasi melalui rehabilitasi embung, sumur dangkal, dan sumur dalam,” ujar Amran.
Menanggapi hal tersebut, Amran yang juga menjabat Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) memaparkan proyeksi neraca. Ia menyebutkan stok jagung surplus 4,3 juta ton dan gula konsumsi tersedia sebanyak 632 ribu ton.
Amran mengungkapkan bahwa pemerintah tengah menggenjot program kemandirian energi melalui implementasi bahan bakar nabati jenis B50 tahun ini. Strategi tersebut diharapkan mampu menghentikan impor solar sebanyak 5,3 juta ton untuk memperkuat ekonomi nasional.
“InsyaAllah tahun ini Indonesia tidak akan impor solar sebanyak 5,3 juta ton. Kedepan kita akan implementasikan pabrik etanol dan bahan bakunya dari ubi, tebu, dan jagung,” kata Amran.
Pemerintah juga terus menyalurkan bantuan pangan secara masif kepada 33,2 juta Keluarga Penerima Manfaat (KPM) di Indonesia. Langkah ini dilakukan untuk menjaga stabilitas harga serta menekan laju inflasi pangan yang saat ini terkendali.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....