Kapasitas TPA Bangka Alami Kondisi Overload Parah
- 07 Apr 2026 06:20 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Sekretaris Daerah Kabupaten Bangka Tengah, Ahmad Syarifullah Nizam, menginformasikan kondisi penumpukan sampah yang semakin mengkhawatirkan di daerahnya
- Fenomena tersebut adalah dampak nyata dari keterbatasan kapasitas lahan penampungan yang kini sudah tidak mampu lagi menampung volume limbah.
- Keterbatasan anggaran menjadi penghambat utama bagi banyak daerah untuk segera meninggalkan sistem pembuangan terbuka yang merusak kualitas lingkungan.
RRI.CO.ID, Jakarta - Sekretaris Daerah Kabupaten Bangka Tengah, Ahmad Syarifullah Nizam, menginformasikan kondisi penumpukan sampah yang semakin mengkhawatirkan di daerahnya. Menurutnya, fenomena tersebut adalah dampak nyata dari keterbatasan kapasitas lahan penampungan yang kini sudah tidak mampu lagi menampung volume limbah.
Ahmad memaparkan bahwa jumlah timbulan sampah harian masyarakat kini sudah sangat melebihi daya tampung infrastruktur yang ada sekarang. "Volume sampah yang dihasilkan masyarakat tidak sebanding dengan luas lahan yang tersedia sehingga memicu penumpukan yang sangat luar biasa," ucap Ahmad Syarifullah Nizam kepada PRO3 RRI, Senin, 6, April 2026.
Ahmad menyampaikan bahwa fasilitas pengolahan sampah di wilayahnya saat ini sudah mengalami kelebihan beban secara teknis yang signifikan. Menurutnya, penumpukan sampah tersebut terjadi karena operasional pembuangan masih menggunakan metode terbuka yang sebenarnya sudah tidak layak untuk dipertahankan.
"Satu-satunya tempat pemrosesan akhir yang kami miliki saat ini memang sudah sangat penuh sekali akibat kiriman sampah harian," katanya. Selain itu, Ahmad memaparkan bahwa pembenahan infrastruktur lingkungan merupakan poin utama yang harus segera diselesaikan oleh seluruh jajaran.
Dia berpendapat bahwa pemerintah pusat juga harus ikut bertanggung jawab karena anggaran untuk membangun fasilitas modern membutuhkan biaya sangat besar. "Pemerintah daerah memerlukan bantuan pendanaan dari pusat sekitar tiga puluh empat miliar rupiah guna membangun lokasi pemrosesan baru," ucapnya.
Dirinya juga membeberkan bahwa tantangan terbesar dalam memodernisasi sistem pengelolaan limbah ini terletak pada aspek pembiayaan daerah. Menurutnya, keterbatasan anggaran menjadi penghambat utama bagi banyak daerah untuk segera meninggalkan sistem pembuangan terbuka yang merusak kualitas lingkungan.
Ahmad juga mengimbau masyarakat untuk mulai melakukan pemilahan sampah secara mandiri dari rumah tangga sebagai solusi jangka pendek. Langkah tersebut juga sebagai upaya mengurangi produksi sampah dari hulu.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....