MPR: Akses Pendidikan Kunci Pemberdayaan Perempuan Indonesia

  • 06 Apr 2026 19:55 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat menegaskan akses pendidikan bermutu menjadi kunci pemberdayaan perempuan
  • Peran perempuan dalam pembangunan nasional secara berkelanjutan
  • Peningkatan kualitas dan akses pendidikan menjadi strategi menjawab kesenjangan gender di Indonesia

RRI.CO.ID, Jakarta - Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat menegaskan akses pendidikan bermutu menjadi kunci pemberdayaan perempuan. Hal itu dinilai penting untuk memperkuat peran perempuan dalam pembangunan nasional secara berkelanjutan.

"Pemberdayaan perempuan tidak bisa dipisahkan dari akses dan mutu pendidikan," ujar Lestari, Senin, 6 April 2026. Menurut dia, pendidikan membuka pengetahuan, membangun kepercayaan diri, serta memperluas ruang kepemimpinan perempuan.

Ia menilai peningkatan kualitas dan akses pendidikan menjadi strategi menjawab kesenjangan gender di Indonesia. Laporan World Economic Forum mencatat Indeks Kesenjangan Gender Indonesia 2025 sebesar 0,692.

Angka tersebut menempatkan Indonesia di peringkat ke-97 dari 148 negara secara global. Lestari menyebut kondisi itu menjadi pekerjaan rumah besar yang harus segera diatasi bersama.

Ia menilai pendidikan bermutu menjadi fondasi penting agar perempuan mampu berperan dalam pengambilan keputusan. Pencanangan April 2026 sebagai Bulan Pemberdayaan Perempuan melalui Pendidikan dinilai langkah strategis pemerintah.

Program tersebut diharapkan mampu memperkuat kebijakan peningkatan kualitas sumber daya manusia perempuan. Meski akses pendidikan dasar relatif baik, tantangan masih terlihat pada bidang STEM.

Data ILO 2024 menunjukkan lulusan perempuan di bidang STEM baru mencapai 35 persen. Sementara perempuan yang bekerja di sektor STEM hanya sekitar delapan persen dari total tenaga kerja.

Data BPS mencatat partisipasi sekolah perempuan usia 7–12 tahun mencapai 99,42 persen. Sedangkan pada kelompok usia 16–18 tahun tercatat sebesar 79,56 persen.

Namun demikian, kesenjangan kualitas dan relevansi pendidikan masih menjadi tantangan utama. Lestari menekankan pentingnya kebijakan pendidikan yang relevan dengan kebutuhan masa depan.

Ia juga mendorong peningkatan kapasitas perempuan di sektor strategis nasional. Selain itu, sinergi berbagai pihak diperlukan untuk menghadirkan pendidikan inklusif tanpa diskriminasi.

Ia berharap lahir perempuan yang berdaya saing dan siap berperan. Dalam pembangunan menuju Indonesia Emas 2045.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....