Mengenal Luka Stigmata, Fenomena Tanda Ilahi dalam Penderitaan Kristus
- 04 Apr 2026 21:35 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Stigmata merupakan luka menyerupai penderitaan Yesus saat penyaliban, dipandang sebagai tanda persatuan mendalam dengan Kristus.
- Dalam ajaran Katolik, stigmata bukan kewajiban umat, melainkan anugerah langka yang mencerminkan pengalaman iman yang kuat dan personal.
- Gereja meneliti fenomena stigmata secara mendalam untuk memastikan keaslian serta menghindari kesalahpahaman di kalangan umat.
RRI.CO.ID, Jakarta - Stigmata merupakan salah satu fenomena spiritual yang dikenal dalam tradisi Gereja Katolik. Istilah ini merujuk pada munculnya luka-luka pada tubuh seseorang yang menyerupai luka yang dialami Yesus Kristus saat penyaliban.
Luka-luka tersebut tidak secara acak muncul, namun kemunculannya bisa di beberapa tempat seperti di tangan, kaki, dan lambung. Fenomena ini telah menjadi perhatian umat beriman, teolog, hingga kalangan medis.
Hal itu di karenakan fenomena dianggap sebagai tanda persatuan mendalam seseorang dengan penderitaan Kristus. Sekaligus bentuk penghayatan iman yang sangat kuat dan personal.
Dalam ajaran Gereja Katolik, stigmata tidak dipandang sebagai sesuatu yang wajib atau harus dialami oleh umat. Melainkan sebagai karunia khusus yang dialami individu tertentu.
Guru Besar Sejarah Gereja Katolik, Pastor Antonius Eddy Kristiyanto mengatakan bahwa stigmata adalah anugerah dari Tuhan. Melalui stigmata, ada pesan bahwa di dalam penderitaan tentu ada pengharapan dan sukacita.
"Stigmata bermula dari Stigma yang merupakan kata Bahasa latin yang berarti luka potong atau bekas luka. Biasanya di telapak tangan dan kaki, kata stigma juga ada dalam Bahasa Yunani," katanya dalam keterangan resmi yang diterima RRI, Sabtu, 4 April 2026.
Ia menjelaskan, bentuk jamaknya menjadi stigmata digunakan untuk menamai cap bakar di kulit binatang atau budak belian. Seiring berjalannya waktu, kata stigmata berarti noda pada nama baik seseorang atau kelompok.

Mistikus Katolik asal Jerman, Therese Neumann saat mengalami fenomena Stigmata pada tahun 1926 (Foto: Instagram/@morbidanatomy)
Dalam Gereja Katolik, stigmata diartikan tanda luka-luka dalam diri seseorang. Yang sama persis dengan luka-luka Yesus akibat derita penyaliban-Nya.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa stigmata merupakan peristiwa yang jarang dan dalam arti tertentu luar biasa dan aneh. "Stigmata dari sudut pandang manusia adalah suatu yang aneh tapi sungguh-sungguh terjadi," ucapnya.
Meskipun menjadi salah satu fenomena dalam tradisi Gereja Katolik. Tapi, kata dia, untuk membuktikan seseorang mengalami fenomena stigmata harus membutuhkan waktu lama dalam menyikapinya.
Pastor Diosesan Keuskupan Bogor, Pastor Fabianus Heatubun mengatakan bahwa fenomena stigmata adalah sebuah pengalaman iman umat Katolik. Umat Katolik yang mengalami fenomena stigmata akan mempunyai tanda luka di tangan dan kaki yang sangat detail.
Ia menjelaskan bahwa luka-luka tersebut akan mengeluarkan darah namun tidak berbau amis. "Tidak bau amis, melainkan mengeluarkan aroma harum bunga mawar," ujar dalam dialog Komisi Komsos Keuskupan Bandung via kanal YouTube, Selasa, 24 Maret 2026.
Selain itu, luka-luka tersebut tidak menimbulkan infeksi, sehingga tidak memerlukan pengobatan medis. "Berdarah tapi tidak sakit, dan tidak infeksi, darahnya mengalir begitu saja," ucapnya, menambahkan.
Meski demikian, Gereja tetap berhati-hati dalam menyikapi fenomena ini dengan melakukan kajian mendalam, baik secara spiritual maupun ilmiah. Pendekatan tersebut dilakukan untuk memastikan keaslian peristiwa, sekaligus menghindari kesalahpahaman di kalangan umat.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....