Perajin Tempe dan Tahu Keluhkan Lonjakan Harga Kedelai Impor
- 04 Apr 2026 13:00 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Kenaikan harga kedelai terus terjadi sejak awal tahun 2026.
- Harga kedelai kini berada di kisaran Rp10.500 hingga Rp10.600 per kilogram.
- Ketua Paguyuban Perajin Tempe dan Tahu Jawa Barat, Muhammad Zamaludin mengatakan, sejumlah perajin tahun dan tempe mengeluhkan kenaikan harga kedelai impor.
RRI.CO.ID, Jakarta - Ketua Paguyuban Perajin Tempe dan Tahu Jawa Barat, Muhammad Zamaludin mengatakan, sejumlah perajin tahun dan tempe mengeluhkan kenaikan harga kedelai impor. Bahkan, kenaikan terus terjadi sejak awal tahun 2026
Ia mengatakan, kenaikan harga mencapai puncaknya pada awal April 2026. Harga kedelai kini berada di kisaran Rp10.500 hingga Rp10.600 per kilogram.
Sebelumnya, harga kedelai masih berada pada kisaran Rp8 ribuan per kilogram. Kenaikan juga terjadi pada plastik dan kunyit sebagai bahan produksi tahu kuning.
“Padahal sebelumnya harganya masih sekitar Rp8 ribuan per kilogram. Kenaikan harga kedelai juga diikuti oleh kenaikan plastik dan bumbu dapur bahan pembuat tahu kuning (kunyit),” kata Zamaludin dalam perbincangan dengan RRI Pro3, di Jakarta, Sabtu, 4 April 2026.
Kenaikan kedelai dan bahan produksi otomatis mengurangi pendapatan perajin tempe dan tahu. Perajin sudah menaikkan harga papan, namun belum menutupi kenaikan biaya.
Ia menyebut kenaikan harga per papan mencapai Rp500. Namun langkah tersebut tetap belum mampu mengejar lonjakan biaya bahan baku.
“Jika kenaikan kedelai terus terjadi, maka kami terpaksa mengurangi ukuran tempe dan tahu. Tidak menutup kemungkinan juga akan menaikan lagi harga,” ujarnya.
Meski pendapatan menurun, produksi tempe dan tahu masih berjalan. Zamaludin memastikan belum ada perajin yang menghentikan operasional usaha mereka.
“Yang penting tidak rugi saja, meski keuntungan makin mengecil. Harapannya harga kedelai bisa turun seperti sebelumnya,” katanya.
Lonjakan harga kedelai impor dipicu gangguan rantai pasok global akibat konflik Timur Tengah. Kondisi ini meningkatkan biaya produksi dan menekan perajin skala kecil.
Pemerintah berencana menggulirkan 70.000 ton kedelai SPHP untuk stabilisasi harga. Langkah ini diharapkan mampu meredam lonjakan harga di pasar domestik.
Indonesia masih bergantung pada impor kedelai untuk memenuhi kebutuhan nasional. Produksi dalam negeri rendah, sehingga impor tetap menjadi sumber utama pasokan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....