Apa Itu Gempabumi Tektonik? Berikut Penjelasan Penyebab dan Mekanismenya

  • 02 Apr 2026 08:34 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Gempabumi tektonik terjadi akibat pergerakan lempeng bumi yang memicu pelepasan energi secara tiba-tiba
  • BMKG menyatakan gempa M7,6 di Bitung termasuk jenis gempa tektonik berdasarkan analisis karakteristiknya
  • Indonesia rawan gempa tektonik karena berada di pertemuan tiga lempeng besar dunia yang aktif bergerak

RRI.CO.ID, Jakarta - Gempabumi berkekuatan magnitudo 7,6 mengguncang wilayah Bitung, Sulawesi Utara, Kamis, 2 April 2026, pukul 05.48 WIB. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan gempa tersebut berpotensi tsunami.

BMKG melaporkan pusat gempa berada sekitar 129 kilometer tenggara Bitung, Sulawesi Utara. Lokasi gempa tercatat pada koordinat 1,25 Lintang Utara dan 126,27 Bujur Timur dengan kedalaman 62 kilometer.

BMKG menyatakan bahwa gempa yang terjadi merupakan gempabumi tektonik. Pernyataan tersebut disampaikan berdasarkan hasil analisis BMKG terhadap karakteristik gempa yang terjadi.

Gempabumi tektonik merupakan jenis gempabumi yang terjadi akibat pergerakan lempeng tektonik di dalam kerak bumi. Peristiwa ini muncul ketika energi yang tersimpan lama dilepaskan secara tiba-tiba sehingga menimbulkan getaran kuat.

Dilansir dari laman BMKG, gempa tektonik terjadi karena akumulasi tekanan dari pergerakan lempeng yang terus berlangsung. Energi yang dilepaskan kemudian merambat sebagai gelombang seismik hingga dapat dirasakan di permukaan bumi.

Pergerakan lempeng tektonik menjadi faktor utama penyebab gempa tektonik yang paling sering terjadi di berbagai wilayah dunia. Lempeng tersebut merupakan bagian keras kerak bumi yang mengapung di atas lapisan panas dan plastis di bawahnya.

Interaksi antar lempeng dapat berupa saling menjauh, saling mendekat, maupun bergeser satu sama lain sepanjang batas pertemuan. Wilayah perbatasan ini menjadi zona aktif yang kerap memicu gempa tektonik dengan kekuatan beragam.

Pada kondisi tertentu, pergerakan lempeng dapat terhambat sehingga terjadi penguncian yang menyebabkan penumpukan energi dalam waktu lama. Ketika batuan tidak lagi mampu menahan tekanan tersebut, energi dilepaskan secara mendadak sebagai gempa tektonik.

Lapisan litosfer yang kaku berperan sebagai tempat terjadinya patahan akibat tekanan dari dinamika pergerakan lempeng. Sementara itu, lapisan mantel di bawahnya bersifat lebih plastis sehingga memungkinkan terjadinya aliran konveksi yang menggerakkan lempeng.

Indonesia termasuk wilayah yang sering mengalami gempa tektonik karena berada di pertemuan tiga lempeng besar dunia. Interaksi Lempeng Indo-Australia, Eurasia, dan Pasifik menyebabkan aktivitas seismik tinggi di berbagai daerah.

Kondisi tersebut menjadikan gempa tektonik sebagai ancaman yang perlu diwaspadai melalui upaya mitigasi yang tepat. Pemahaman masyarakat mengenai penyebab dan karakteristik gempa tektonik penting untuk mengurangi risiko dampak bencana.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....