Mendikdasmen: Halal Bihalal Perkuat Nilai Spiritual dan Sosial Masyarakat
- 31 Mar 2026 09:15 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti mengatakan, halal bihalal sebagai tradisi khas Indonesia.
- Mendikdasmen mengatakan, halal bihalal lahir dari pengamalan nilai ajaran agama.
RRI.CO.ID, Jakarta – Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti mengatakan, halal bihalal sebagai tradisi khas Indonesia. Meski, lanjut dia, tradisi ini tidak langsung berasal dari syariat agama.
Mu'ti menjelaskan halal bihalal lahir dari pengamalan nilai ajaran agama. Nilai tersebut diterjemahkan dalam kehidupan sosial masyarakat Indonesia.
“Halal bihalal itu tradisi, bukan agama. Nilainya berangkat dari pengamalan ajaran agama," kata Mu'ti dalam acara Halalbihalal di kantor Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah di Jakarta, Senin, 30 Maret 2026.
Ia menyebut halal bihalal sebagai bentuk vernakularisasi ajaran agama. Proses ini menunjukkan kreativitas masyarakat dalam menerjemahkan nilai religius.
Menurutnya, tradisi ini hanya ditemukan di Indonesia. Hal tersebut menjadi bukti penerimaan nilai agama melalui pendekatan budaya.
Dalam momentum Idulfitri, mudik menjadi bagian penting halal bihalal. Mu'ti menilai mudik memiliki makna spiritual mendalam.
Ia menjelaskan mudik bukan sekadar perjalanan pulang kampung. Mudik merupakan upaya kembali kepada asal atau fitrah manusia.
Ia menekankan pentingnya saling memaafkan antar sesama. “Kesucian spiritual harus diikuti penyegaran sosial,” kata Mu'ti.
Mu'ti memperkenalkan konsep 3R dalam halal bihalal. Konsep tersebut mencakup refreshing, reunion, dan re-creation.
“Refreshing adalah penyegaran spiritual dan sosial. Di mana umat kembali pada fitrah dan memperbaiki hubungan sosial," katanya.
Reunion menjadi momen berkumpul kembali dengan keluarga dan kerabat. Sedangkan re-creation memberi energi serta semangat baru.
“Re-creation bukan sekadar rekreasi. Ini tentang mendapatkan pencerahan dan semangat baru," ujarnya.
Selain itu, Mu'ti menjelaskan konsep 3O dalam halal bihalal. Konsep tersebut meliputi open mind, open heart, dan open will.
Ia menekankan pentingnya keterbukaan berpikir dan kelapangan hati. Sikap tersebut dinilai penting untuk membangun harmoni sosial.
Mu'ti juga menyoroti keunikan ucapan selamat Idulfitri di Indonesia. Tradisi ini mencerminkan kreativitas masyarakat dalam beragama.
Ia menegaskan pentingnya nilai inklusif dalam kehidupan bermasyarakat. “Nilai halal bihalal tentang membangun hubungan sosial harmonis,” ucap Mu'ti.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....