Hemat Air hingga 20 Persen, Kementan Dorong Pengelolaan Air Sawah

  • 27 Mar 2026 14:00 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Kementerian Pertanian mendorong pengelolaan air sawah hemat air untuk menghadapi musim kemarau
  • Pengelolaan air dilakukan melalui metode Alternate Wetting and Drying (AWD)
  • Metode AWD mampu menghemat penggunaan air irigasi sekitar 17–20 persen
  • Teknologi AWD menjadi bagian strategi adaptasi perubahan iklim sektor pertanian
  • Pengelolaan air menjadi faktor penting menjaga produksi padi saat musim kemarau
  • Teknologi AWD membantu mengurangi risiko kekeringan di lahan sawah
  • Penerapan AWD dilakukan dengan pengaturan siklus pengairan berdasarkan kelembapan tanah
  • Metode AWD juga dapat menurunkan emisi gas rumah kaca dari lahan sawah
  • AWD menjadi bagian strategi smart agriculture untuk menjaga produktivitas padi

RRI.CO.ID Jakarta - Kementerian Pertanian (Kementan) mendorong pengelolaan air sawah yang lebih hemat untuk menghadapi musim kemarau. Pengelolaan air dilakukan melalui metode Alternate Wetting and Drying atau AWD.

Metode AWD merupakan teknik pengairan sawah secara terukur dan tidak terus menerus tergenang. Metode ini mampu menghemat penggunaan air irigasi sekitar 17 hingga 20 persen tanpa menurunkan produktivitas padi.

Teknologi ini menjadi bagian dari strategi adaptasi perubahan iklim di sektor pertanian. Efisiensi penggunaan air menjadi penting karena ketersediaan air semakin terbatas saat musim kemarau.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengatakan, pengelolaan air menjadi faktor penting dalam menjaga produksi pertanian. Ketersediaan air sangat menentukan keberhasilan produksi padi di tengah ancaman kekeringan.

“Pengelolaan air menjadi faktor krusial dalam keberhasilan produksi pertanian. Ketersediaan air yang terencana dan efisien sangat menentukan dalam menekan risiko kekeringan,” kata Amran dalam rilis resmi Kementan, Jumat 27 Maret 2026.

Kepala Balai Riset dan Pengembangan Pertanian Fadjry Djufry mengatakan, teknologi AWD merupakan solusi menghadapi keterbatasan air. Petani dapat mengatur pemberian air secara terukur sehingga tanaman tetap tumbuh optimal.

Menurutnya, teknologi AWD dikembangkan oleh International Rice Research Institute pada 2009. Teknologi ini mulai diadaptasi di Indonesia oleh Kementerian Pertanian sejak 2013.

“Berdasarkan hasil pengujian selama enam musim tanam, melalui teknik AWD ini, kelangkaan air di lahan sawah dapat ditekan, bahkan dihindari. Teknologi ini dapat menghemat penggunaan air irigasi 17-20 persen,” katanya, menjelaskan.

Berdasarkan hasil pengujian selama beberapa musim tanam, teknologi AWD mampu menghemat penggunaan air irigasi hingga sekitar 20 persen. Teknologi ini juga dapat membantu mengatasi risiko kekeringan di lahan sawah.

Analis BRMP Lingkungan Pertanian Ali Pramono menjelaskan penerapan AWD dilakukan dengan mengatur siklus pengairan berdasarkan kondisi kelembapan tanah. Sawah tidak selalu dalam kondisi tergenang dan pengairan dilakukan pada waktu tertentu.

Ia menjelaskan pengamatan kondisi air dilakukan menggunakan alat sederhana berupa pipa paralon yang ditanam di lahan sawah. Alat tersebut berfungsi seperti piezometer sederhana untuk mengukur tinggi muka air tanah.

Pengairan kembali dilakukan ketika muka air di dalam pipa turun sekitar 10 hingga 15 sentimeter di bawah permukaan tanah. Air kemudian diberikan kembali dalam jumlah terbatas untuk menjaga kelembapan tanah.

Selain menghemat air, metode AWD juga memperbaiki kondisi perakaran dan struktur tanah. Metode ini juga dapat menurunkan emisi gas rumah kaca dari lahan sawah.

Penerapan AWD menjadi bagian dari strategi climate smart agriculture di sektor pertanian. Strategi ini bertujuan menjaga produktivitas padi di tengah keterbatasan air saat musim kemarau.

“AWD tidak sekadar menjadi teknik pengairan. Tetapi juga bagian dari strategi mitigasi yang memperkuat ketahanan sistem produksi padi,” katanya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....