Psikolog Sarankan Orang Tua Waspadai Peningkatan Depresi pada Anak
- 11 Mar 2026 12:15 WIB
- Pusat Pemberitaan
RRI.CO.ID, Jakarta - Dekan Fakultas Psikologi Universitas Islam Bandung, Dewi Rosiana, meminta para orang tua mewaspadai meningkatnya kasus anak-anak yang mengalami depresi. Menurutnya, angka anak-anak yang mengalami depresi berdasarkan pemeriksaan kesehatan jiwa melalui program Cek Kesehatan Gratis (CKG) cukup memprihatinkan.
Untuk itu, ia mendorong para orang tua, katanya, perlu mengenali gejala anak-anak yang tengah mengalami depresi. “Diantara, perubahan emosi drastis seperti sedih, putus asa berkepanjangan, dan mudah marah (tantrum),” katanya dalam perbincangan bersama RRI Pro 3, Rabu (11/3/2026).
Selain itu, kata Dewi, anak biasanya juga kehilangan minat pada hobi serta menarik diri dari teman atau keluarga. “Anak juga mengalami penurunan prestasi sekolah, susah tidur dan makan, dan merasa tidak berharga,” ujarnya.
Orang tua, kata dia, juga perlu mengenali gejala-gejal tersebut dan melakukan pendekatan dan komunikasi kepada anak. “Orang tua harus lebih banyak mendengar dibandingkan banyak bicara, karena anak menjadi merasa seperti dihakimi,” ucapnya.
Sebelumnya, pemeriksaan kesehatan jiwa terhadap 27 juta penduduk melalui program CKG menunjukkan gejala depresi/kecemasan pada anak. Dimana gejala depresi/kecemasan anak usia remaja 5 kali lebih tinggi dibandingkan orang dewasa dan lansia.
Tekanan akademik, perubahan hormonal, beban sosial, dan pengaruh media sosial menjadi faktor utama. Data Kementerian Kesehatan tahun 2025-2026 menunjukkan kasus gejala depresi pada pelajar dan remaja di Indonesia mencapai 4,8 persen.
Angka tersebut sekitar 300-400 ribu jiwa atau lima kali lebih tinggi dibandingkan kelompok dewasa dan lansia. Fenomena ini didominasi usia muda (10-17 tahun), dengan tingkat kecemasan tinggi dan risiko bunuh diri yang meningkat.
Angka gejala depresi pada remaja mencapai 4,8-5,6 persen, sementara pada dewasa dan lansia di bawah 1 persen. Kasus di Jakarta dilaporkan hampir 10 kali lebih tinggi dari rata-rata nasional, didukung tingginya literasi mental dan tekanan hidup.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....