Mendikdasmen Jelaskan Alasan Gunakan Istilah TKA dalam Evaluasi Pendidikan

  • 08 Mar 2026 16:45 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

RRI.CO.ID, Jakarta - Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu'ti menjelaskan alasan penggunaan Tes Kemampuan Akademik (TKA) dalam sistem evaluasi pendidikan.

Ia mengatakan, istilah “tes” dipilih agar tidak menimbulkan beban psikologis berlebihan bagi para siswa.

Mu’ti menjelaskan, istilah ujian dalam sistem pendidikan Indonesia telah mengalami beberapa perubahan sejak masa sebelumnya. Menurutnya, perubahan istilah tersebut menunjukkan dinamika kebijakan pendidikan yang terus menyesuaikan kebutuhan zaman.

“Ini untuk jenjang yang sekolah dasar. Karena itu maka kami adakan TKA ini. Kami menggunakan kata-kata tes,” kata Mu’ti dalam Podcast PRO3 Siniar, Kamis, 5 Maret 2026.

Ia menyebut, penggunaan istilah tes juga memiliki latar belakang historis dalam perkembangan evaluasi pendidikan nasional. Sejak masa awal kemerdekaan, istilah yang digunakan dalam sistem evaluasi pendidikan mengalami beberapa perubahan.

“Dalam sejarah Indonesia kata tes ini belum pernah digunakan," ujarnya. Mu’ti menuturkan pada masa awal istilah yang digunakan adalah “ujian penghabisan” yang dianggap cukup menakutkan bagi siswa.

Istilah tersebut kemudian berubah menjadi ujian tahap akhir hingga berkembang dalam berbagai bentuk evaluasi nasional. “Dulu ujian itu namanya ujian penghabisan, seram ya," kata Mu’ti.

Seiring perkembangan kebijakan pendidikan, istilah ujian kemudian berubah menjadi Evaluasi Belajar Tahap Akhir dan Ebtanas. Setelah itu sistem evaluasi kembali berubah menjadi Ujian Nasional yang sempat menjadi penentu kelulusan siswa.

“UN itu ada tiga tahapan. UN yang menjadi penentu kelulusan, yang menjadi penentu kelulusan,” ucapnya.

Mu’ti mengatakan, dalam perkembangannya Ujian Nasional kemudian tidak lagi menjadi penentu kelulusan siswa. Kebijakan tersebut akhirnya berubah menjadi Asesmen Nasional yang lebih berfokus pada pemetaan kualitas pendidikan.

Ia menilai, setiap sistem evaluasi memiliki konteks dan kelebihan serta kekurangannya masing-masing dalam praktik pendidikan. Karena itu pemerintah berupaya menyesuaikan istilah yang digunakan agar tidak menimbulkan tekanan bagi siswa.

“Kalau begitu tone-nya kita diturunkan, jangan pakai ujian. Supaya tidak menimbulkan beban psikologis,” kata Mu’ti.

Ia menambahkan, secara prinsip istilah tes, evaluasi, maupun ujian memiliki fungsi yang sama dalam mengukur kemampuan siswa. Namun penggunaan istilah tes diharapkan dapat membuat proses evaluasi terasa lebih ringan bagi peserta didik.

“Ya sebenarnya sama saja, mau tes, evaluasi, ujian, sama saja gitu. Tapi kita pakai istilah tes yang sekarang gitu,” ujarnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....