Kurator Harap Metode 'Bit Arrangement' Segera Diterapkan di Museum Sangiran
- 07 Mar 2026 12:10 WIB
- Pusat Pemberitaan
RRI.CO.ID, Jakarta - Kurator Museum Arkeologi Museum Sangiran, Pipit Meilinda berharap metode Bit Arrangement dapat segera diterapkan di Museum Sangiran. Menurutnya, metode ini ini sangat cocok digunakan untuk memperkaya cara penyajian informasi kepada pengunjung.
Ia mengatakan bahwa pendekatan ini lebih dulu digunakan museum swasta sebagai penyajian informasi yang interaktif dibandingkan museum pemerintah. Hal ini disebabkan sumber pendanaan Museum Sangiran yang masih terbatas, yakni hanya berasal dari alokasi APBN dan pendapatan penjualan tiket masuk.
"Selama ini pendanaan bergantung kepada alokasi APBN dan tiket masuk, tentunya terbatas untuk pengembangan museum. Dengan adanya skema baru ini, mudah-mudahan bisa lebih direalisasikan," katanya saat menghadiri Seminar Ilmiah – Eksibisi Karya: Menghidupkan Fosil Manusia Purba Menggunakan Bit Arrangement di Museum Arkeologi Sangiran, Teater Luwes IKJ, Jakarta Pusat, Jumat, 6 Maret 2026.
Ia menjelaskan bahwa sejak 2023 Museum Sangiran bersama Museum Nasional dan Galeri Nasional telah tergabung dalam skema Badan Layanan Umum (BLU). Skema tersebut memungkinkan institusi museum memperoleh sumber pendanaan yang lebih beragam, tidak hanya bergantung pada APBN.
Melalui status BLU, museum kini berpeluang memperoleh dukungan pendanaan dari berbagai sumber lain. Yaitu seperti filantropi, kerja sama, hingga program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR), dana tersebut nantinya dimanfaatkan untuk pengembangan museum.
Ia menambahkan, lembaga yang menaungi Museum Sangiran saat ini mengelola 19 museum dan 34 cagar budaya di Indonesia. "Termasuk kawasan Candi Borobudur dan Candi Prambanan," ucapnya.
Ia menjelaskan bahwa kawasan Museum Sangiran kini memiliki lima museum yang dibagi berdasarkan tema tertentu. Misalnya, Museum Bukuran yang berfokus pada evolusi manusia purba, serta Museum Ngebung yang menampilkan sejarah penelitian arkeologi.
Dengan konsep tersebut, pengunjung dapat memilih pengalaman belajar yang lebih spesifik sesuai minatnya. Sementara bagi pengunjung yang memiliki waktu terbatas, Museum Sangiran juga menyediakan visitor center sebagai ruang pengenalan umum.
Sementara itu, Menteri Kebudayaan (Menbud), Fadli Zon berharap seluruh museum Indonesia milik BLU bisa mendapatakan pemasukan selain alokasi APBN dan tiket masuk. Salah satunya adalah dengan penjualan merchandise museum.
Ia kemudian membandingkan kemajuan museum di Indonesia dengan negara lain, salah satunya di Prancis. Menurutnya, pendanaan museum di negara tersebut berasal dari pemasukan tiket sebesar 30 persen dan penjualan merchandise hingga 50 persen.
"Jadi peran dari souvenir, merchandise itu sebenarnya sangatlah sangat tinggi. Tapi ada juga pendanaan dari pemerintah sebanyak 20 persen saja," ujar Menbud Fadli.
Pada prinsipnya, museum di Indonesia harus mampu menghadirkan souvenir (merchandise) yang tidak hanya bernilai ekonomi. Tetapi juga merepresentasikan identitas dan kekayaan budaya bangsa.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....