Maskapai Lion Soroti Lonjakan Kasus 'Bird Strike'

  • 06 Mar 2026 10:06 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

RRI.CO.ID, Tangerang - Kasus 'bird strike' (tabrakan pesawat dengan burung serta satwa liar) semakin meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Hal tersebut mengancam keselamatan penerbangan dan harus menjadi perhatian semua pihak.

"Seluruh pemangku kepentingan disektor penerbangan harus terlibat aktif dalam upaya mitigasi insiden 'bird srtike' ini. Karena, demi menjaga keselamatan penerbangan," ujar CEO Lion Group, Daniel Putut Kuncoro Adi di Bandara Soekarno-Hatta, Jumat 6 Maret 2026.

Menurut Daniel, data internal Lion Group menunjukkan bahwa dari tahun 2012 hingga 2021 jumlah kasus 'bird strike' masih berada pada tingkat minimal. Namun, tren tersebut mulai berubah sejak 2022 dengan peningkatan signifikan.

Pada 2023, lanjutnya, terjadi peningkatan tajam, meskipun sempat mengalami penurunan drasrtis pada 2024. Penurunan tersebut tampaknya hanya sementara karena, 2025 jumlah kejadian justru mencapai titik tertinggi.

"Sementara pada 2026, insiden 'bird srike' masih terus terjadi. Hal ini harus segera ditindaklanjuti, sebelum periode angkutan mudik Lebaran 2026," kata dia.

Tren peningkatan insiden 'bird strike' sambung Daniel, tidak hanya terjadi di Lion Group, tapi diakui juga oleh para maskapai lain. "Karena itu, masalah 'bird strike' harus menjadi perhatian bersama seluruh pelaku industri penerbangan," ucapnya.

Menurutnya, insiden tabrakan pesawat dengan burung tidak hanya menimbulkan potensi kerugian finansial bagi maskapai, tetapi juga berisiko terhadap keselamatan penerbangan. “Risiko 'bird strike' bisa mulai dari kerusakan ringan hingga yang paling fatal,” katanya.

Daniel mengingatkan agar Indonesia tidak kembali mengalami penurunan reputasi keselamatan penerbangan seperti yang pernah terjadi pada 2007. Ketika sejumlah maskapai Indonesia mendapat larangan terbang ke Eropa dan penurunan kategori keselamatan penerbangan internasional.

Untuk itu, Daniel mengajak seluruh stakeholder penerbangan mulai dari maskapai, pengelola bandara, hingga penyedia layanan navigasi penerbangan untuk memperkuat koordinasi dalam mitigasi risiko bird strike. Kolaborasi tersebut, melibatkan tiga pihak utama yakni maskapai, bandara dan penyedia navigasi penerbangan seperti AirNav Indonesia.

Bandara, misalnya, memiliki fasilitas untuk mengusir burung di area operasional. Sementara petugas navigasi atau air traffic controller (ATC) dapat memberikan informasi kepada pilot mengenai aktivitas burung disekitar bandara.

Selain itu, Daniel juga mengusulkan agar dalam struktur perusahaan pengelola bandara nasional, PT Angkasa Pura Indonesia (InJourney Airports), dibentuk jabatan Direktur Safety. Nantinya, secara khusus bertanggung jawab terhadap pengawasan keselamatan.

Ia menilai posisi tersebut penting agar program keselamatan penerbangan berjalan sesuai standar Safety Management System (SMS) yang ditetapkan dalam regulasi penerbangan internasional. “Dalam sistem manajemen keselamatan harus ada 'accountable safety manager' yang levelnya cukup tinggi untuk melakukan 'oversight' terhadap direktorat lain,” ujarnya.

Terpisah, Direktur Kelaikudaraan dan Pengoperasian Pesawat Udara Kemenhub, Sokhib Al Rokhman mengatakan gangguan terhadap operasi penerbangan di Indonesia dari serangan hewan liar sangat rentan terjadi. Pencegahan sejak dini menjadi penting agar tidak mengakibatkan dampak yang merugikan bagi kecelakaan pesawat dan korban manusia.

Beberapa insiden 'bird strike' telah dilaporkan terjadi di bandara besar di Indonesia seperti Bandara Soekarno-Hatta, Bandara Hasanuddin. Kemudian, Bandara Juanda, Bandara Hang Nadim serta beberapa lokasi diwilayah timur Indonesia.

"Akibat bird strike ini dapat merusak mesin dan bodi pesawat. Sehingga mengganggu keselamatan penerbangan," kata dia.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....