Menteri Rosan: Investasi Panel Surya Sudah Masuk Senilai USD 1,4 Miliar

  • 05 Mar 2026 21:55 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

RRI.CO.ID, Jakarta - Menteri Investasi/Kepala BKPM sekaligus CEO Danantara Rosan Roeslani mengungkapkan adanya investasi asing langsung untuk pembangunan pabrik panel surya di Indonesia. Nilai investasi tersebut mencapai sekitar 1,4 miliar dolar Amerika Serikat.

Rosan menjelaskan dana investasi itu telah mulai masuk sejak pertengahan 2025. Saat ini pembangunan fasilitas produksi panel surya tersebut masih berlangsung.

“Investasi itu sudah masuk sejak pertengahan 2025. Pembangunannya memakan waktu kurang lebih hampir satu setengah tahun, nilai investasinya sekitar 1,4 miliar dolar AS,” kata Rosan usai menghadiri rapat terbatas dengan Presiden Prabowo Subianto di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Kamis, 5 Maret 2026.

Ia menyampaikan proses pembangunan pabrik diperkirakan membutuhkan waktu sekitar satu setengah tahun. Sementara fasilitas produksi tersebut ditargetkan dapat beroperasi pada akhir 2026.

Menurut Rosan, proyek tersebut merupakan investasi asing yang ditanamkan untuk memperkuat pengembangan industri energi baru terbarukan di Indonesia. Kehadiran pabrik itu diharapkan dapat mendukung kebutuhan komponen pembangkit listrik tenaga surya di Indonesia.

“Dengan adanya investasi ini, kita bisa menggunakan produksi dalam negeri. Utamanya untuk mendukung proyek PLTS yang sedang didorong pemerintah,” kata Rosan.

Ia menilai pengembangan industri panel surya domestik menjadi langkah penting dalam memperkuat rantai pasok energi bersih nasional. Selain itu, investasi tersebut juga diharapkan mendorong percepatan program transisi energi yang tengah dijalankan pemerintah.

Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto mengatakan perguruan tinggi diminta mendukung percepatan pengembangan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS). Langkah ini diarahkan untuk menggantikan pembangkit listrik berbasis diesel yang masih memiliki biaya produksi tinggi.

"Jadi kami dari perguruan tinggi riset-riset hasil-hasil penelitian dan juga kajian-kajian itu diminta mendukung percepatan solar cell. PLTS terutama untuk mengganti pembangkit-pembangkit yang harganya masih mahal, yaitu pembangkit-pembangkit yang berasal dari diesel," kata Brian.

Ia menyebut percepatan pengembangan energi surya tersebut akan dikoordinasikan oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Sementara perguruan tinggi akan berperan menyediakan dukungan penelitian dan kajian ilmiah.

"Itu tadi arahan Presiden, nanti Pak Menteri ESDM yang akan menjadi koordinator. Tentu kami dari perguruan tinggi akan membackup dari sisi penelitian-penelitian maupun kajian-kajiannya," ucap Brian.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....