Mendikdasmen Soroti Pemberian Nilai Tinggi Siswa Tak Sesuai Kemampuannya
- 05 Mar 2026 14:27 WIB
- Pusat Pemberitaan
RRI.CO.ID, Jakarta - Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu'ti menyoroti praktik pemberian nilai tinggi kepada siswa, namun tidak mencerminkan kemampuan sebenarnya. Ia menilai fenomena tersebut muncul karena hampir tidak ada lagi siswa yang tidak naik kelas atau tidak lulus.
"Sekarang anak-anak itu yang penting datang ke sekolah itu mesti naik kelas. Iya kan jadi seperti tidak ada cerita dia tidak naik kelas," ucap Mu'ti dalam podcast PRO3 Siniar, Kamis, 5 Maret 2026.
Mu’ti mengatakan budaya pendidikan saat ini cenderung menempatkan kehadiran di sekolah sebagai syarat utama kenaikan kelas. Akibatnya, evaluasi akademik dinilai tidak berjalan optimal karena hampir semua siswa tetap diluluskan.
“Karena itu terjadi apa sering saya sebut ini istilah saya aja ya, shodakoh nilai begitu, bukan mark up. Kalau mark up kan kecenderungannya kayaknya jelek ya, kalau ini kerelaan hati dari gurunya,” kata Mu’ti.
Ia menjelaskan nilai yang seharusnya berada pada tingkat tertentu kerap dinaikkan demi membantu siswa memperoleh hasil lebih baik. Menurutnya, praktik ini sering dilakukan dengan alasan empati atau kerelaan hati guru terhadap murid.
“Ya harusnya kemampuannya itu nilainya enam tapi dikasih delapan. Atau mungkin malah dikasih sembilan,” ucapnya.
Mu’ti menilai kondisi tersebut dapat menimbulkan ketidaksesuaian antara nilai akademik dengan kemampuan nyata siswa. Ketika nilai rapor terlalu tinggi, hasil evaluasi pendidikan menjadi kurang akurat dalam menggambarkan kualitas belajar.
Ia menambahkan masalah tersebut semakin kompleks karena nilai rapor sering dijadikan dasar dalam proses seleksi pendidikan berikutnya. Sejumlah penerimaan siswa baru hingga seleksi perguruan tinggi saat ini menggunakan nilai rapor sebagai salah satu indikator utama.
"Nah ternyata karena nilai rapot tadi dasarnya sodakoh itu, tidak mengikuti kaedah evaluasi validitas dan realititas tes itu. Maka akhirnya ya misleading gitu, tinggi-tinggian kan," ucap Mu'ti.
Ia menegaskan integritas dalam proses penilaian harus tetap dijaga agar pendidikan menghasilkan lulusan yang berkualitas. Mu’ti juga menekankan pentingnya kejujuran akademik sebagai fondasi utama dalam sistem pendidikan.
“Kalau mahasiswa kuliah saya itu nilainya minimal B, kalau udah nyontek sudah tidak ada ampun. Karena saya menempatkan integritas itu lebih tinggi daripada mereka kemampuan yang dalam tanda petik tidak real itu,” kata Mu’ti.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....