Pelaksanaan TKA, Mendikdasmen: Evaluasi Belajar untuk Tingkatkan Kualitas
- 05 Mar 2026 14:06 WIB
- Pusat Pemberitaan
RRI.CO.ID, Jakarta - Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu'ti menegaskan pentingnya evaluasi dalam proses belajar sebagai upaya meningkatkan kualitas pendidikan nasional.
Ia menilai evaluasi diperlukan untuk mengukur capaian belajar siswa sekaligus menjawab kekhawatiran masyarakat terhadap kemampuan dasar peserta didik.
“Yang namanya belajar itu harus ada evaluasinya, ya kan? Jadi harus ada evaluasinya, itu di negara manapun ada evaluasi itu, bukan tidak ada,” kata Mu’ti dalam Podcast PRO3 Siniar, Kamis, 5 Maret 2026.
Menurutnya, wacana evaluasi seperti Tes Kemampuan Akademik (TKA) muncul setelah banyak masukan dari masyarakat mengenai kemampuan dasar siswa. Sejumlah laporan bahkan menunjukkan kemampuan akademik sebagian pelajar dinilai masih berada di bawah ekspektasi yang seharusnya dicapai.
Mu’ti mencontohkan fenomena yang sering beredar di masyarakat, seperti siswa sekolah menengah yang kesulitan menjawab soal perkalian sederhana. Kondisi tersebut memicu kekhawatiran bahwa sistem pembelajaran belum sepenuhnya menghasilkan kompetensi dasar yang kuat pada peserta didik.
“Jadi memang ada banyak sekali masukan bahkan ada yang memang sudah mulai merasa begitu resah ya. Ini kalau dibiarkan kita bukannya punya generasi emas tapi generasi cemas," ujar Mu'ti.
Ia juga menyoroti berbagai kajian akademik yang menunjukkan fenomena siswa bersekolah tanpa memperoleh pemahaman belajar yang memadai. Fenomena tersebut menurutnya telah menjadi perhatian sejumlah lembaga internasional yang meneliti kualitas pendidikan global.
“Secara akademik misalnya UNESCO sempat meluncurkan banyak penelitian tentang schooling without learning. Anak-anak itu sekolah tapi gak belajar,” ucap Mu’ti.
Selain itu, ia menilai penggunaan gawai yang berlebihan turut memengaruhi kemampuan konsentrasi belajar anak-anak saat ini. Paparan konten digital yang cepat dan berganti membuat rentang perhatian siswa menjadi semakin pendek ketika mengikuti proses pembelajaran.
“Kemampuan untuk konsentrasi untuk fokus itu sangat rendah. Yang karena itu ya memang karena mereka gak bisa konsentrasi ya, gak bisa belajar kan,” ujarnya.
Mu’ti juga menyinggung munculnya budaya “scroll culture” di kalangan generasi muda akibat penggunaan media sosial yang intens. Kebiasaan menggulir konten secara cepat dinilai berdampak pada rendahnya fokus dan motivasi belajar siswa.
“Itu punya pengaruh yang besar terhadap konsentrasi belajar anak-anak kita dan motivasi belajar anak-anak kita juga sangat rendah. Karena saya gak tahu ini bagaimana mulainya saya gak tahu,” kata Mu’ti.
Ia menegaskan pemerintah akan terus mengevaluasi berbagai kebijakan pendidikan. Hal tersebut guna memastikan siswa tidak hanya bersekolah, tetapi juga benar-benar belajar.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....