BMKG Prediksi Kemarau 2026 Lebih Kering dari Biasanya

  • 04 Mar 2026 12:17 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

‎RRI.CO.ID, Jakarta – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi musim kemarau 2026 di Indonesia akan lebih kering dari biasanya. Kondisi tersebut diperkirakan terjadi di sebagian besar wilayah Tanah Air dengan curah hujan di bawah normal.

‎“Musim kemarau yang akan kita hadapi pada tahun 2026 diprediksi lebih panjang dan kering dari biasanya. Kondisi ini perlu dicatat sebagai bagian dari langkah antisipasi,” kata Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Teuku Faisal Fathani dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu, 4 Maret 2026.

‎Ia menjelaskan, lanjut Faisal, awal musim kemarau akan dimulai dari wilayah Nusa Tenggara. Selanjutnya kondisi tersebut bergerak ke arah barat secara bertahap menuju wilayah Indonesia lainnya.

‎"BMKG mencatat sekitar 114 zona musim atau 16,3 persen wilayah mulai memasuki kemarau pada April. Sementara 184 zona musim atau 26,3 persen wilayah diperkirakan memasuki kemarau pada Mei," ucapnya.

‎Selain itu, sekitar 163 zona musim atau 23,3 persen wilayah diprediksi memasuki musim kemarau pada Juni. Data tersebut dihitung dari total 699 zona musim di seluruh Indonesia.

‎"BMKG juga memprediksi sebagian wilayah mengalami awal musim kemarau lebih cepat dari biasanya. Sekitar 325 zona musim atau 46,5 persen wilayah diperkirakan mengalami kemarau lebih awal," katanya. ‎

‎Sementara itu, sekitar 173 zona musim atau 23,7 persen wilayah diperkirakan memasuki kemarau sesuai kondisi biasanya. Perbedaan tersebut, kata Faisal, dipengaruhi dinamika atmosfer dan perubahan pola iklim global.

‎“Akumulasi curah hujan selama musim kemarau 2026 diprediksi berada pada kategori bawah normal. Sekitar 451 zona musim atau 64,5 persen wilayah diperkirakan lebih kering dari biasanya,” katanya.

‎BMKG memprakirakan puncak musim kemarau di sebagian besar wilayah Indonesia terjadi pada Agustus 2026. Sekitar 429 zona musim atau 61,4 persen wilayah diprediksi mengalami puncak kemarau pada periode tersebut.

‎Deputi Bidang Klimatologi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Ardhasena Sopaheluwakan menjelaskan kondisi kemarau dipengaruhi dinamika iklim global. Menurutnya saat ini fenomena ENSO berada pada fase netral.

‎Ia menyebut peluang kemunculan El Nino pada pertengahan tahun tetap ada. Namun intensitasnya diperkirakan berada pada kategori lemah hingga moderat.

‎“Pemantauan kami menunjukkan kondisi ENSO saat ini berada pada fase netral. Namun terdapat peluang El Nino muncul pada pertengahan tahun 2026,” ujarnya.

‎Ia menambahkan, kondisi kemarau lebih kering perlu diantisipasi berbagai sektor. Terutama sektor pangan, sumber daya air, energi, lingkungan, serta kehutanan dan kebencanaan.

‎BMKG berharap, informasi prakiraan musim kemarau 2026 dapat menjadi panduan bagi pemangku kebijakan. Data tersebut diharapkan membantu langkah mitigasi dan antisipasi dampak perubahan iklim.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....