Ketahui Mitos Gerhana Bulan dari Berbagai Peradaban

  • 03 Mar 2026 20:15 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

RRI.CO.ID, Jakarta - Gerhana bulan selalu menarik perhatian manusia sejak ribuan tahun lalu, bahkan sebelum ilmu astronomi berkembang seperti sekarang. Fenomena langit ini bukan hanya peristiwa ilmiah, tetapi juga melahirkan mitos yang diwariskan turun-temurun dalam berbagai kebudayaan.

Secara ilmiah, gerhana bulan terjadi ketika Bumi berada tepat di antara Matahari dan Bulan dalam satu garis lurus. Akibatnya, bayangan Bumi menutupi Bulan sehingga tampak kemerahan karena pembiasan cahaya Matahari oleh atmosfer.

Namun demikian, bagi banyak peradaban kuno, warna merah tersebut tidak dipahami sebagai efek optik semata. Mereka memaknainya sebagai pertanda kosmis yang berkaitan dengan kekuatan gaib dan nasib manusia.

Berikut adalah mitos gerhana bulan dari berbagai peradaban dunia yang menarik untuk disimak.

Peradaban Inca: Jaguar Langit Menyerang Bulan

Menurut kepercayaan masyarakat Inca, bulan yang memerah diyakini sedang diserang oleh jaguar langit yang ganas. Hewan buas itu dipercaya mencoba memakan bulan dan sekaligus mengancam kehidupan manusia di bumi.

Karena itulah, masyarakat berteriak keras dan mengguncang senjata secara serempak untuk mengusir makhluk tersebut. Mereka bahkan membuat anjing melolong agar kebisingan itu mampu menakuti sang jaguar dan menyelamatkan bulan.

Dengan cara itu, bulan dipercaya dapat kembali bersinar dan ancaman pun berakhir. Tradisi tersebut menunjukkan betapa kuatnya hubungan antara mitos, rasa takut kolektif, dan upaya perlindungan simbolik pada masa itu.

Mesopotamia Kuno: Ancaman bagi Raja

Berbeda dengan Inca, masyarakat Mesopotamia kuno memandang gerhana sebagai pertanda buruk yang mengancam keselamatan raja. Menurut para ahli astronomi dan peramal istana kala itu, peristiwa tersebut bisa membawa nasib malang bagi penguasa.

Oleh sebab itu, dilakukan ritual unik dengan menunjuk raja pengganti sementara selama gerhana berlangsung. Sementara itu, raja asli bersembunyi agar terhindar dari dampak buruk yang diyakini turun dari langit.

Setelah gerhana usai dan bahaya dianggap berlalu, raja sejati kembali naik takhta seperti semula. Tradisi ini menunjukkan bagaimana langit dipandang sebagai penentu legitimasi kekuasaan dan stabilitas politik.

Tradisi Hindu: Rahu dan Bulan yang Tertelan

Dalam mitologi Hindu, gerhana dikaitkan dengan kisah iblis Rahu yang meminum ramuan keabadian milik para dewa. Menurut cerita tersebut, Rahu dipenggal sebagai hukuman atas perbuatannya yang curang.

Namun karena telah meneguk ramuan itu, kepalanya tetap hidup dan menjadi abadi meski tanpa tubuh. Sejak saat itu, Rahu dipercaya memburu matahari dan bulan sebagai bentuk dendam yang tidak pernah padam.

Ketika ia berhasil menangkap bulan, terjadilah gerhana yang membuat bulan tampak tertelan. Akan tetapi, bulan kemudian muncul kembali karena Rahu tidak memiliki tubuh untuk menahannya.

Selain itu, di banyak wilayah India, gerhana sering dianggap membawa pertanda kurang baik bagi kehidupan sehari-hari. Karena itulah, makanan dan air biasanya ditutup rapat serta ritual pembersihan dilakukan setelah gerhana berlalu.

Suku Asli Amerika: Bulan yang Perlu Disembuhka

Jika sebagian budaya memaknai gerhana sebagai ancaman, sejumlah suku asli Amerika justru melihatnya dengan pendekatan lebih lembut. Melansir The Conversation, Suku Hupa dan Luiseño percaya bulan sedang terluka atau sakit ketika menggelap.

Menurut mereka, setelah gerhana terjadi, bulan perlu disembuhkan melalui doa dan nyanyian khusus. Suku Luiseño bahkan melantunkan lagu penyembuhan ke arah bulan sebagai bentuk empati dan kepedulian terhadap alam.

Dengan cara itu, gerhana dimaknai sebagai momen kebersamaan dan penghormatan terhadap keseimbangan kosmos. Pandangan ini menunjukkan pendekatan yang lebih harmonis dalam memahami fenomena langit.

Batammaliba Afrika: Simbol Perdamaian

Legenda masyarakat Batammaliba di Togo dan Benin juga memberi makna yang berbeda terhadap gerhana bulan. Mereka memandang peristiwa tersebut sebagai pertikaian simbolis antara matahari dan bulan.

Karena itu, manusia dipercaya memiliki tanggung jawab moral untuk mendamaikan konflik tersebut. Gerhana pun dimaknai sebagai waktu yang tepat untuk mengakhiri perselisihan dan memperbaiki hubungan antarsesama.

Tradisi ini bahkan masih dijaga hingga kini sebagai simbol rekonsiliasi sosial di tengah masyarakat. Dengan demikian, gerhana bukan hanya fenomena langit, melainkan juga pengingat untuk berdamai.

Perspektif Islam

Dalam pandangan Islam, gerhana ditafsirkan tanpa unsur takhayul atau mitos yang bersifat spekulatif. Matahari dan bulan dipandang sebagai tanda kebesaran Allah SWT yang berjalan sesuai ketetapan-Nya.

Karena itu, umat Islam dianjurkan memperbanyak doa dan melaksanakan Salat al-Khusuf saat gerhana bulan berlangsung. Ibadah tersebut menjadi bentuk penghambaan sekaligus pengingat akan kekuasaan Allah atas alam semesta.

Kini, sains mampu menjelaskan gerhana bulan secara rinci bahkan hingga hitungan detik yang presisi. Meski demikian, pesonanya tetap membuat manusia berhenti sejenak, menengadah, dan merasa takjub.

Di antara sains modern dan cerita lama yang diwariskan turun-temurun, gerhana bulan menjadi cermin cara manusia memahami langit. Setiap zaman, menurut keyakinan dan pengetahuannya, memiliki bahasanya sendiri dalam membaca dan menafsirkan alam semesta.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....