Impor Awal Tahun Melonjak, Sektor Migas Masih Dominan

  • 03 Mar 2026 09:57 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

RRI.CO.ID, Jakarta – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat lonjakan impor Indonesia pada Januari 2026 sebesar 18,21 persen secara tahunan. Kenaikan ini jauh melampaui pertumbuhan ekspor yang hanya tumbuh 3,39 persen pada periode sama.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menyampaikan total nilai impor Januari 2026 mencapai 21,20 miliar dolar AS. Angka tersebut menunjukkan peningkatan signifikan dibandingkan Januari tahun sebelumnya.

“Pada Januari tahun 2026, total nilai impor mencapai 21,20 miliar Dolar AS. Meningkat 18,21 persen jika dibandingkan dengan Januari tahun 2025 yang lalu,” ujar Ateng dalam konferensi pers di Kantor Pusat BPS, Jakarta, Senin, 2 Maret 2026.

Dari total impor tersebut, impor migas tercatat 3,17 miliar dolar AS atau naik 27,52 persen. Sementara impor nonmigas mencapai 18,04 miliar dolar AS dengan kenaikan 16,71 persen secara tahunan.

Menurut Ateng, pertumbuhan impor terutama didorong oleh peningkatan sektor nonmigas. Sektor ini memberikan andil sebesar 14,40 persen terhadap total kenaikan impor.

“Peningkatan nilai impor secara tahunan ini terutama didorong oleh peningkatan impor nonmigas dengan andil impor nonmigas sebesar 14,40 persen,” katanya.

Berdasarkan penggunaannya, impor barang modal mencatat kenaikan tertinggi sebesar 35,32 persen. Impor bahan baku atau penolong naik 14,67 persen dengan andil 10,61 persen terhadap total pertumbuhan.

Sementara itu, impor barang konsumsi juga meningkat sebesar 11,81 persen secara tahunan. Kenaikan ini menunjukkan adanya peningkatan kebutuhan pasar domestik.

Tiga komoditas utama nonmigas yang paling banyak diimpor adalah mesin dan perlengkapan elektrik, mesin dan peralatan mekanik, serta plastik dan barang dari plastik. Ketiganya menyumbang 37,54 persen terhadap total impor nonmigas Januari 2026.

Sementara itu, Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan eskalasi konflik AS, Israel, dan Iran berpotensi mengganggu pasokan minyak global. Menurutnya, situasi tersebut turut mendorong kenaikan harga energi dunia.

Kondisi ini dipicu langkah Iran menutup Selat Hormuz sebagai jalur utama distribusi minyak. Penutupan tersebut berdampak besar terhadap arus perdagangan energi global.

"Tentu kalau Iran sudah pasti yang terganggu adalah suplai minyak, dan suplai minyak itu karena Selat Hormuz kan terganggu. Belum juga Red Sea (Laut Merah). Jadi kita lihat berapa jauh pertempuran ini akan terus berlangsung," ujar Airlangga.

Menanggapi situasi itu, pemerintah mengantisipasi potensi gangguan pasokan energi. Langkah antisipasi dilakukan dengan mengamankan sumber impor di luar Timur Tengah.

Ia menjelaskan pengamanan pasokan ditempuh melalui kerja sama internasional. Salah satunya MoU Pertamina dengan perusahaan migas asal Amerika Serikat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....