Bakom Tegaskan Impor dari AS Tak Ganggu Produk Lokal
- 25 Feb 2026 18:12 WIB
- Pusat Pemberitaan
RRI.CO.ID, Jakarta – Pemerintah menegaskan kesepakatan perdagangan timbal balik atau ART dengan Amerika Serikat tidak mengancam produk domestik. Tim Pakar Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom RI) Fithra Faisal Hastiadi menyebut komoditas impor dari AS bukan pesaing langsung produksi nasional.
Fithra menjelaskan mayoritas barang yang dibeli Indonesia merupakan kebutuhan industri atau komoditas pelengkap. Menurutnya, produk tersebut tidak berbenturan langsung dengan hasil produksi dalam negeri.
“Nah, secara umum apa yang dibeli dari US itu adalah sebenarnya produk-produk yang tidak bersinggungan langsung dengan produk-produk di dalam negeri. Itu secara umum ya, meskipun ada beberapa irisan-irisannya,” kata Fithra di Jakarta, Rabu, 25 Februari 2026.
Sejumlah komoditas dalam daftar impor mencakup kapas, jagung, hingga beras. Pemerintah memastikan kebijakan itu tetap diawasi kementerian teknis terkait, terutama Kementerian Pertanian.
“Nah, tentunya beberapa produk-produk yang memang dibutuhkan impor yang juga tadi seperti jagung, terus kemudian ada beras, itu pasti akan kita notifikasi ke Kementerian Pertanian,” ujarnya.
Fithra menekankan perjanjian dagang tersebut tidak bersifat kaku dan masih bisa dievaluasi. Indonesia tetap memiliki ruang untuk melindungi kepentingan ekonomi nasional.
“Kalau dianggap ini kemudian mengganggu kepentingan ekonomi lokal, ya kan kita bisa bernegosiasi lagi. Selalu ada escape clause-nya asalkan ini tidak melanggar national interest,” jelasnya.
Ia juga menilai kekhawatiran terhadap impor beras dari AS cenderung berlebihan. Produksi beras Amerika Serikat dinilai tidak signifikan memengaruhi pasar domestik Indonesia.
“Tapi sementara ini yang sesempit yang saya pahami bahwa komitmen kita untuk membeli barang-barang tersebut adalah tidak sangat mengganggu produksi kita,” ujarnya.
“Misalnya beras itu sangat limited karena mereka juga bukan produsen beras juga, tidak banyak juga gitu kan. Jadi tidak mengganggu secara umum kapasitas nasional,” ucap Fithra.
Pemerintah memastikan implementasi kesepakatan perdagangan tetap mengutamakan kebutuhan nasional. Fithra menyebut, daya saing dan keberlanjutan produk lokal tetap menjadi perhatian utama.
Di sisi lain, Menteri Perdagangan (Mendag), Budi Santoso, memastikan kebijakan tarif impor AS tidak mengganggu kinerja ekspor nasional. Menurutnya, kondisi neraca perdagangan Indonesia saat ini tetap berada pada posisi yang sangat kuat.
Bahkan, posisi perdagangan Indonesia terhadap AS tercatat masih mengalami surplus hingga awal tahun ini. Karena itu, Mendag merasa optimistis angka ekspor produk unggulan nasional justru berpeluang tumbuh lebih besar dari periode sebelumnya.
“Sekarang saja kita surplus, paling besar terhadap AS dan India, sehingga tidak ada masalah. Banyak produk ekspor Indonesia yang mendapatkan fasilitas tarif nol persen sesuai butir kesepakatan dalam perjanjian perdagangan kedua negara,” ujarnya di Jakarta, Selasa 24 Februari 2026.
Budi menekankan hubungan dagang resiprokal ini akan memberikan keuntungan yang seimbang bagi kedua pihak. Ia menyebut pemerintah akan terus meningkatkan volume pengiriman barang guna memperkuat cadangan devisa negara melalui jalur perdagangan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....