Hari Lahir Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama di Indonesia, Simak Jejak Sejarahnya
- 24 Feb 2026 13:20 WIB
- Pusat Pemberitaan
RRI.CO.ID, Jakarta - Tanggal 24 Februari 2026 menandai 72 tahun berdirinya Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) di Indonesia. Organisasi ini resmi didirikan di Semarang pada 24 Februari 1954 melalui Konferensi Besar Lembaga Pendidikan Ma’arif Nahdlatul Ulama
Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) merupakan badan otonom Nahdlatul Ulama (NU) yang mewadahi pelajar dan santri. Batas usia anggota ditetapkan maksimal 30 tahun sebagai bagian dari pembinaan kader muda Nahdlatul Ulama.
Kelahiran IPNU tidak berlangsung secara tiba-tiba tanpa proses sejarah panjang sebelumnya. Embrio organisasi pelajar Nahdlatul Ulama telah tumbuh di berbagai daerah sebelum kemerdekaan Indonesia.
Melansir laman NU, pada 11 Oktober 1936, warga Nahdlatul Ulama Surabaya mendirikan perkumpulan Tsamrotul Mustafidin sebagai wadah pelajar. Tiga tahun kemudian, Persatoean Santri Nahdlatul Oelama (Persano) berdiri memperkuat gerakan pelajar pesantren.
Sementara itu di Malang, Persatoean Anak Moerid Nahdlatul Oelama (PAMNO) lahir pada 1941 sebagai wadah kaderisasi pelajar. Empat tahun kemudian, Ikatan Moerid Nahdlatul Oelama berdiri memperluas jaringan pelajar berbasis pesantren.
Kemudian di Sumbawa, Ijtimaul Tolabah Nahdlatul Oelama (ITNO) berdiri pada 1946 dengan semangat perjuangan. Organisasi tersebut memiliki tim sepak bola bernama Ikatan Sepak Bola Peladjar Nahdlatul Oelama (ISPNO).
Sementara itu, di Madura berdiri Syubbanul Muslimin pada 1945 di tengah situasi revolusi kemerdekaan. Perkumpulan pelajar masa itu turut membantu perjuangan bangsa sesuai dinamika revolusi fisik.
Memasuki masa revolusi fisik, aktivitas organisasi pelajar yang bersifat lokal mulai menurun. Namun gagasan menyatukan seluruh pelajar Nahdlatul Ulama dalam wadah nasional justru semakin menguat.
Beberapa embrio Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama muncul pada awal 1950-an di sejumlah daerah penting. Ikatan Siswa Muballighin Nahdlatul Oelama (Iksimno) berdiri di Semarang pada 1952 sebagai perintis.
Persatuan Peladjar Nahdlatul Oelama (Perpeno) lahir di Kediri pada 1953 dengan semangat pembaruan. Ikatan Peladjar Islam Nahdlatul Oelama (IPINO) berdiri di Bangil pada tahun yang sama.
Ikatan Pelajar Nahdlatul Oelama (IPNO) juga berdiri di Medan pada 1954 sebagai penguat jaringan. Seluruh embrio tersebut memperkokoh gagasan pembentukan organisasi tingkat nasional di bawah Nahdlatul Ulama.
Gagasan pembentukan wadah tunggal disampaikan dalam Konferensi Besar Lembaga Pendidikan Ma’arif Nahdlatul Ulama Februari 1954 di Semarang. Usulan tersebut diajukan pelajar dari Yogyakarta, Surakarta, dan Semarang dengan dukungan luas peserta konferensi.
Para penggagas antara lain M Softan Kholil, Mustahal, Ahmad Masyhud, dan Abdulghani Farida M Uda. Konferensi akhirnya menyetujui berdirinya Ikatan Peladjar Nahdlatul Ulama sebagai organisasi nasional pelajar.
Pada 20 Jumadil Akhir 1373 Hijriah atau 24 Februari 1954, organisasi tersebut resmi berdiri. Mohammad Tolchah Mansoer diangkat sebagai Ketua Pimpinan Pusat pertama meski tidak hadir dalam forum.
Sejak awal berdiri, organisasi ini berasaskan Ahlussunnah wal Jama’ah sebagai landasan ideologis utama. Keanggotaannya saat itu hanya diperuntukkan bagi pelajar putra dari berbagai lembaga pendidikan.
Tujuan organisasi adalah menegakkan dan menyiarkan ajaran Islam berpaham Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja). Organisasi ini juga menghimpun potensi pelajar Islam tidak hanya dari sekolah Nahdlatul Ulama.
Awalnya, organisasi ini berada di bawah Lembaga Pendidikan Ma’arif Nahdlatul Ulama (LP Ma’arif NU). Pada Kongres ke-6 di Surabaya, statusnya berubah menjadi badan otonom Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).
Pada Kongres 1988 di Pesantren Mambaul Ma’arif Denanyar Jombang, asas organisasi diubah menjadi Pancasila. Dalam forum tersebut, muncul usulan penggabungan Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU).
Nama organisasi kemudian sempat berubah menjadi Ikatan Putra Nahdlatul Ulama dan Ikatan Putri-putri Nahdlatul Ulama. Perubahan tersebut menandai pergeseran posisi sebagai organisasi kepemudaan dalam Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI).
Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) kemudian mengusulkan kembalinya organisasi ini sebagai wadah pelajar. Keputusan resmi pengembalian khittah ditetapkan dalam Kongres di Asrama Haji Sukolilo pada 2003.
Sejak saat itu, Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama kembali pada jati dirinya sebagai organisasi pelajar. Hingga kini, IPNU terus berperan membina kader muda Nahdlatul Ulama di seluruh Indonesia.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....