Dewan Ekonomi Nasional Dukung Perjanjian Dagang Donald Trump

  • 23 Feb 2026 22:10 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

RRI.CO.ID, Jakarta- Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN), Luhut Binsar Pandjaitan, menyambut baik penandatanganan Agreement on Reciprocal Trade (ART) antara Indonesia dan Amerika Serikat. Luhut mengatakan perjanjian ART semakin memperkuat posisi Indonesia di tengah ketidakpastian perdagangan internasional dan dinamika kebijakan tarif global.

“Perjanjian ini memastikan posisi Indonesia tetap kuat dan kredibel di tengah ketidakpastian perdagangan global. Ini adalah langkah strategis untuk melindungi kepentingan nasional sekaligus memperkuat daya saing ekonomi kita,” kata Luhut, dalam keterangan tertulis yang diterima wartawan, Senin, 23 Februari 2026.

Perjanjian tersebut memastikan bahwa tarif resiprokal bagi Indonesia maksimal sebesar 19 persen. Selain itu, Amerika memberikan akses tarif 0 persen untuk 1.819 jenis produk ekspor unggulan Indonesia ke pasar Amerika Serikat.

Produk-produk tersebut mencakup minyak sawit, kopi, kakao, rempah-rempah, karet, produk elektronik, hingga mineral penting. Adapun nilainya mencapai USD 6,3 miliar atau Rp105 triliun, dan jumlah tersebut sekitar 21,2 persen dari total ekspor Indonesia ke Amerika. .

Amerika Serikat juga berkomitmen memberikan tarif 0 persen dalam jumlah tertentu bagi produk tekstil dan apparel Indonesia. Kebijakan ini sangat penting bagi sektor padat karya yang menyerap lebih dari 4 juta tenaga kerja dan menjadi salah satu tulang punggung industri manufaktur nasional.

Perjanjian ini juga diperkuat dengan komitmen kerja sama ekonomi konkret, termasuk pembelian energi dari Amerika senilai USD 15 miliar, pemesanan pesawat Boeing sebesar USD 13,5 miliar. Selanjutnya impor komoditas pertanian senilai USD 4,5 miliar, serta 11 nota kesepahaman bisnis dengan total nilai mencapai USD 38,4 miliar di sektor pertambangan, energi, teknologi, dan manufaktur.

Adapun terkait sorotan Indonesia menghapus tarif untuk 99 persen produk Impor dari Amerika, Luhut menegaskan produk dari Amerika, sebagian besar sangat dibutuhkan di Indonesia. Selain itu, barang tersebut tidak diproduksi di dalam negeri.

“Seperti kedelai, gandum, dan bahan baku industri, yang terpenting, 93 persen dari produk impor dari Amerika sebelumnya sudah dikenakan tarif sangat rendah yaitu 5 persen dan di bawahnya. Kemudian 54 persen sudah dikenakan tarif 0 persen, sehingga penghapusan tarif menjadi 0 persen untuk 99 persenimpor Amerika tidak berdampak besar," kata Luhut.

Seperti diketahui, Presiden RI Prabowo Subianto dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump menandatangani kerja sama perdagangan. Penandatangan kedua pemimpin negara berlangsung di Washington DC, Kamis 19 Februari 2026.

Presiden Prabowo menegaskan perundingan perdagangan antara Indonesia dan Amerika Serikat telah menghasilkan kesepahaman yang saling menguntungkan dan dilandasi sikap saling menghormati. Apalagi perundingan perjanjian telah berlangsung lama hampir 1 tahun.

“Kita bahas masalah perdagangan di antara dua negara. Perundingan sudah cukup lama, artinya ketemu saling menguntungkan, saling menghormati saya kira bagus ya,”kata Presiden.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....