KKP Pastikan Stok Ikan Budidaya Aman di Awal Bulan Ramadan

  • 19 Feb 2026 13:10 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

RRI.CO.ID, Jakarta - Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) memastikan ketersediaan ikan budidaya aman pada awal Ramadan 1447 Hijriah. Kepastian tersebut disampaikan Direktur Jenderal Perikanan Budidaya TB Haeru Rahayu.

"Kami bisa pastikan bahwa kebutuhan atau pasok ikan hasil budidaya dari sektor perikanan budidaya ini selama bulan puasa sampai nanti Lebaran insya Allah bisa terpenuhi dengan baik," ucapnya dalam konferensi pers di Media Center KKP, Jakarta, Kamis 19 Februari 2026.

Menurutnya, produksi ikan budidaya pada triwulan pertama 2026 diproyeksikan meningkat rata-rata 19,09 persen. Kenaikan terjadi pada komoditas kerapu sekitar 11,32 persen dan nila 10,24 persen.

Sementara produksi udang diprediksi tumbuh 3,63 persen dan lele 3,65 persen. Lalu bandeng meningkat 0,84 persen, sedangkan ikan mas turun 4,11 persen akibat curah hujan tinggi pada 2025.

TB Haeru mengatakan, data tersebut menjadi dasar optimisme pemenuhan kebutuhan ikan selama Ramadan hingga Idulfitri. Pasokan dinilai cukup untuk mengantisipasi lonjakan permintaan masyarakat.

Ia memastikan, pergerakan harga ikan budidaya juga terpantau stabil. Kenaikan harga diperkirakan hanya berkisar 0,25 hingga 1,39 persen.

Untuk harga ikan kerapu pada Maret diproyeksikan sekitar Rp106.887 per kilogram. Sementara harga kakap Rp52.904 per kilogram dan udang vaname Rp63.618 per kilogram.

Lalu bandeng berada di kisaran Rp24.552 per kilogram, nila Rp31.089 per kilogram, dan lele Rp24.895 per kilogram. Menurutnya, sentra produksi ikan budidaya masih di dominasi Pulau Jawa.

Produksi di Sumatera juga terpantau tinggi, terutama Sumatra Utara dan Sumatra Selatan. Sementara Kalimantan dan Sulawesi menunjukkan tren stabil dalam tiga bulan pertama tahun ini.

Lalu wilayah Bali dan Nusa Tenggara, lanjutnya, tetap konsisten menopang produksi, khususnya dari Nusa Tenggara Barat. Selain itu, Maluku dan Papua juga mencatatkan produksi yang relatif stabil.

TB Haeru menambahkan penguatan budidaya dilakukan untuk menopang kebutuhan protein nasional. Langkah tersebut sekaligus mengendalikan tekanan pada sektor penangkapan ikan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....